2014-10-23: WRTG: NYMEX Light Sweet Crude: $82.81 (0.1)
2014-10-23: WRTG: ICE Brent: $86.22 (0.82)
2014-10-23: WRTG: RBOB Gasoline NY Harbor: $2.2134 (0.0132)
2014-10-23: WRTG: Heating Oil NY Harbor: $2.5132 (0.0276)
2014-10-23: WRTG: NYMEX Natural Gas: $3.711 (0.041)
2014-10-21: OPEC: Daily Basket Price: $82.09
Sabtu, 25 Oktober 2014

Kumpulan Artikel

ARTIKEL

JAKARTA.Program konversi Minyak Tanah ke LPG yang sudah menjangkau hampir sekitar 48 juta Kepala Keluarga (KK) dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di hampir seluruh wilayah Indonesia merupakan program konversi energy terbesar di dunia. Baik dalam besaran ekonomi maupun jangkauan wilayah dan sasaran program. Bahkan, pasar LPG dunia mengikuti secara cermat pelaksanaan program konversi energi ini. Sebab, program konversi Minyak Tanah ke LPG yang dilakukan Indonesia akan mempengaruhi neraca LPG dunia.

Semula, program konversi Minyak Tanah ke LPG lebih dilandasi oleh keinginan kuat menekan subsidi Minyak Tanah. Konsumsi Minyak Tanah yang terus mengalami peningkatan telah membebani anggaran keuangan negara. Padahal, dilapangan subsidi terhadap Minyak Tanah terbukti tidak sepenuhnya tepat sasaran. Tidak sedikit terjadi penyelewengan sehingga Minyak Tanah bersubsidi tak hanya dikonsumsi masyarakat miskin namun juga oleh industri maupun masyarakat mampu.

Pemakaian LPG menggantikan Minyak Tanah telah terbukti memberikan keuntungan ekonomis. Pemakaian LPG yang memiliki nilai kalori sebesar 11.254,61 Kcal/Kg (Minyak Tanah sebesar 10.478,95 Kcal/Kg) dengan kesetaraan satu liter Minyak Tanah setara 0,57 Kg LPG, pemakaian LPG memberikan penghematan sekitar Rp 16.500 hingga Rp 29.250 bagi setiap KK yang menjadi sasaran program konversi ini. Sedang bagi negara hingga saat ini telah memberikan penghematan sekitar Rp 25 Triliun.

Sebenarnya, selain alasan ekonomis, konversi Minyak Tanah ke LPG juga memberikan keuntungan lain berupa pemakaian energy yang bersih dan ramah lingkungan. Maklum, dibanding Minyak Tanah, pemakaian LPG tak hanya lebih murah karena memiliki nilai kalori lebih tinggi namun juga lebih bersih. Pembakaran LPG tidak menghasilkan  asap dan relatif tidak berbau. Sedang pembakaran Minyak Tanah yang mengandung karbon selain menghasilkan asap juga memproduksi gas karsiogenik.

Pemakaian LPG dengan demikian juga berperan dalam menurunkan emisi gas karbon. Sebuah bentuk kepedulian masyarakat internasional terkait dengan semakin meningkatnya suhu bumi atau lebih dikenal dengan Clean Development Mechanism (CDM). Meingkatnya suhu bumi dipercaya akibat meningkatnya emisi gas karbon atau gas rumah kaca (GRK). Berbagai upaya dilakukan masyarakat dunia guna menekan emisi gas karbon.
 
Berdasarkan kajian ilmiah, kandungan emisi gas karbon Minyak Tanah memang lebih besar dibanding LPG. Setiap pembakaran satu kilogram Minyak Tanah akan berpotensi menghasilkan emisi gas karbon sebesar 19,6 mg. Sedang untuk pembakaran LPG satuan berat yang sama menghasilkan 17,2 mg. Perbedaan  sebesar 2,4 mg yang jika mempertimbangkan bahwa efisiensi energy LPG sebesar 47,3 GJ/ton dan Minyak Tanah sebesar 44,75 GJ/ton, maka pemakaian LPG mengurangi emisi gas kerbon sebesar 8,8 mg.

Pada survey yang dilakukan secara acak oleh PT Pertamina, untuk setiap KK pemakai LPG 3 Kg rata-rata menghabiskan untuk waktu 6 hari. Ini menunjukan bahwa setiap KK membakar LPG sekitar 0,5 Kg setiap hari. Pamakaian atau konsumsi LPG akan semakin besar bagi UKM, seperti para pedagang keliling maupun warung. Bahkan tidak sedikit yang menghabiskan satu unit LPG 3 Kg untuk setiap hari. Meski demikian juga terdapat pengguna rumah tangga yang menghabiskan LPG 3 Kg lebih dari 6 hari.

Jika diasumsikan bahwa konsumsi atau penggunaan LPG 3 Kg untuk jangka waktu 6 hari atau 0,5 Kg setiap hari terjadi produksi gas karbon 4,4 mg lebih rendah pada setiap KK dibandingkan jika tetap mengkonsumsi Minyak Tanah. Berdasarkan data distribusi paket perdana yang telah mencapai sekitar 47.900.000 maka setiap hari sedikitnya terjadi produksi emisi gas karbon sekitar 210.760.000 mg. Jika dihitung untuk satu bulan maka akan mencapai 6.322.800.000 mg lebih rendah. Sedang untuk satu tahun akan mencapai sekitar 75.873.600.000 mg lebih rendah dibanding dengan tetap mengkonsumsi Minyak Tanah.

Pengurangan emisi gas karbon akibat pemakaian LPG dalam program konversi energi tersebut masih akan lebih besar mengingat sampai saat ini distribusi paket perdana kepada masyarakat masih terus berlangsung. Pada tahun  2010 ini, Pemerintah mentargetkan distribusi paket perdana untuk 12.768.484 KK di 12 Provinsi yang meliputi 84 kota/kabupaten mencakup 13.128 desa dengan 6.575 objek kegiatan diluar Jawa yang menjadi target konversi.

Berdasarkan simulasi yang dilakukan oleh Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN, menghasilkan perhitungan bahwa pemakaian LPG pada program konversi Minyak Tanah ke LPG maka emisi gas karbon akan berkurang sebesar 0,15 persen disbanding tidak diberlakukan program. Artinya pemakaian atau konsumsi LPG bisa mengurangi produksi gas karbon atau emisi CO2 sebesar 0,15 persen disbanding pemakaian Minyak Tanah.

Hasil simulasi yang menggunakan perangkat lunak komputer untuk jangka waktu hingga tahun 2010 memperlihatkan bahwa emisi gas karbon sebelum pelaksanaan program mencapai angka 31.178.596.000 ton. Sedang simulasi emisi setelah pelaksanaan program konversi sebesar 31.076.116.000 ton. Hasil emisi gas karbon ini jika dibandingkan dengan perkiraan emisi dari beberapa sumber terdapat perbedaan besaran.

Pengurangan emisi CO2 atau gas karbon pada program konversi Minyak Tanah ke LPG memberikan sumbangan yang nyata pada peran Indonesia dalam pelaksanaan CDM. Indonesia sebagai negara Non-Annex I sebenarnya tidak diwajibkan untuk menurunkan emisi gas karbon sebagaimana disepakati dlaam Protokol Kyoto. Namun demikian dalam keterlibatannya di UNFCCC yang menghasilkan Bali Road Map maupun pertemuan G20, Indonesia berkomitment untuk menurunkan emisi.

Berdasarkan kajian yang dilakukan tahun 2002, potensi CDM Indonesia mencapai 2 persen dari total CDM dunia. Dari jumlah tersebut, untuk sektor energi potensi emisi gas karbon mencapai 125 juta ton. Berbagai upaya telah dan akan terus dilakukan guna mengurangi protensi produksi gas karbon tersebut. Tak terkecuali adalah program konversi Minyak Tanah ke LPG yang sudah berlangsung selama tiga tahun ini juga telah memberikan sumbangan nyata mengurangi emisi gas karbon.

Pemakaian LPG yang kini menggantikan Minyak Tanah pada masyarakat sasaran program konversi secara nyata telah ikut menekan emisi gas karbon. Program yang semula lebih berorientasi ekonomi ini telah memberikan sumbangan pelaksanaan CDM di tanah air. Meski tidak besar, sumbangan pengurangan emisi gas karbon pada konversi Minyak Tanah ke LPG membuktikan bahwa upaya melaksanakan kegiatan yang membuat lingkungan hidup lebh bersih dan sehat terbukti tidak selamanya merugikan secara ekonomi. Bahkan sebaliknya mampu mendatangkan nilai ekonomi.(AR)

PDFCetakE-mail