2014-04-24: WRTG: NYMEX Light Sweet Crude: $101.44 (-0.31)
2014-04-24: WRTG: ICE Brent : $109.11 (-0.16)
2014-04-24: WRTG: RBOB Gasoline NY Harbor: $3.0935 (-0.0017)
2014-04-24: WRTG: Heating Oil NY Harbor: $2.9809 (-0.0217)
2014-04-24: WRTG: NYMEX Natural Gas: $4.73 (-0.009)
2014-04-23: OPEC: Daily Basket Price: $104.99
Kamis, 24 April 2014

Berita

BATUBARA

Harga Batubara Acuan (HBA) Maret 2011 Turun Menjadi US$ 122.43/Ton

JAKARTA. Harga Batubara Acuan (HBA) bulan Maret 2011 yang ditetapkan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba)-Kementerian ESDM mencapai US$ 122.43/ton, atau turun US$ 4.62/ton dari US$ 127.05/ton pada Februari 2011. Ini merupakan kali pertama HBA mengalami penurunan semenjak konsisten mengalami kenaikan harga dari bulan Oktober 2010 sebesar US$ 92.68/ton hingga puncaknya di bulan Februari 2011 mencapai US$ 127.05/ton. HBA ini merupakan patokan untuk batubara dengan kualitas kalori sekitar 6322 kkal/kg (gross as received).

HBA menggunakan formula yang mengacu kepada rata-rata indeks ICI-1 (Indonesia Coal Index), Platts-1, NEX (Newcastle Export Index) dan GC (Newcastle Global Coal Index). HBA berlaku untuk harga harga spot (kontrak penjualan di bawah 12 bulan) sedangkan untuk harga term (kontrak penjualan lebih dari 12 bulan), harga acuan menggunakan rata-rata HBA 3 bulan terakhir dan harga berlaku untuk penjualan batubara selama 12 bulan.

HBA Maret 2011 diumumkan pada hari kamis (10/03/2011), satu hari sebelum bencana gempa bumi yang diikuti tsunami menimpa Jepang. Sampai saat ini belum dapat diprediksi apakah bencana gempa dan tsunami ini akan mempengaruhi harga batubara Asia. Sampai sehari sebelum bencana gempa dan tsunami, harga thermal coal Australia, yang merupakan benchmark harga batubara di Asia, terbilang stabil mengingat pasar masih dalam posisi menunggu kejelasan kontrak jual beli thermal coal oleh Jepang, seperti dikutip dari Reuters (08/03/2011).

Pembeli dari Jepang merupakan pembeli utama thermal coal Australia seperti Tokyo Electric Power Co (TEPCO), Tohoku Electric Power Co Inc and Chubu Electric. Nama-nama tersebut merupakan perusahaan pembangkit listrik terkemuka Jepang yang tengah bernegosiasi dengan perusahaan tambang Xstrata, eksportir thermal coal terbesar dunia. Namun, adanya bencana yang menimpa Jepang akan sangat mungkin mempengaruhi proses kontrak jual-beli yang sedang berlangsung sehingga otomatis akan mempengaruhi harga batubara di Asia.

Dari kacamata Indonesia, Jepang merupakan importir batubara yang cukup signifikan. Menurut data Ditjen Minerba, di tahun 2010 Jepang mengimpor batubara Indonesia sebesar 24 juta ton, atau hampir 10% dari total produksi batubara Indonesia 2010 sebesar 275 juta ton. Realisasi impor batubara Jepang sendiri pada tahun 2010 berjumlah 116,5 juta ton (Reuters, 23/02/2011), atau dengan kata lain pada tahun 2010 saja sekitar 20% kebutuhan impor batubara Jepang dipasok dari Indonesia. (JS)

PDFCetakE-mail