2014-04-10: WRTG: NYMEX Light Sweet Crude: $102.56 (2.12)
2014-04-10: WRTG: ICE Brent : $107.67 (1.85)
2014-04-10: WRTG: RBOB Gasoline NY Harbor: $2.9801 (0.0541)
2014-04-10: WRTG: Heating Oil NY Harbor: $2.9344 (0.0437)
2014-04-10: WRTG: NYMEX Natural Gas: $4.534 (0.058)
2014-04-08: OPEC: Daily Basket Price: $103.16
Jum'at, 18 April 2014

Berita

BATUBARA

Harga Batubara Acuan (HBA) April 2011 Mencapai US$ 122.02/Ton

JAKARTA. Harga Batubara Acuan (HBA) bulan April 2011 yang ditetapkan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba)-Kementerian ESDM mencapai US$ 122.02/ton, atau turun US$ 0.41/ton dari US$ 122.43/ton pada Maret 2011. HBA pada akhir tahun lalu konsisten mengalami kenaikan dari bulan Oktober 2010 sebesar US$ 92.68/ton hingga puncaknya di bulan Februari 2011 mencapai US$ 127.05/ton. Penurunan HBA pertama kalinya terjadi pada bulan Maret 2011. Besaran penurunan HBA pada bulan April 2011 tidak terlalu signifikan sehingga bisa dikatakan HBA stabil pada kisaran US$ 122/ton.

HBA ini merupakan patokan untuk batubara dengan kualitas kalori sekitar 6322 kkal/kg (gross as received). HBA menggunakan formula yang mengacu kepada rata-rata indeks ICI-1 (Indonesia Coal Index), Platts-1, NEX (Newcastle Export Index) dan GC (Newcastle Global Coal Index). HBA berlaku untuk harga harga spot (kontrak penjualan di bawah 12 bulan) sedangkan untuk harga term (kontrak penjualan lebih dari 12 bulan), harga acuan menggunakan rata-rata HBA 3 bulan terakhir dan harga berlaku untuk penjualan batubara selama 12 bulan.

Beberapa isu yang berkembang antara lain dinamika impor batubara dua raksasa dunia China dan India serta spekulasi meningkatnya impor batubara Jepang pasca gempa bumi dan tsunami. Harga ekspor batubara Afrika Selatan di terminal Richards Bay, terminal batubara terbesar di Afrika, mengalami kenaikan sejak dua bulan lalu terutama didorong oleh spekulasi pembelian batubara oleh pembangkit listrik Jepang, seperti dikutip dari Bloomberg (11/04/2011).

Harga mengalami kenaikan 3,3% menjadi rata-rata US$ 124.74/ton pada awal April yang merupakan harga tertinggi sejak 4 Februari lalu. Jepang mengalami potensi kekurangan pasokan listrik setelah gempa bumi dan tsunami pada tanggal 11 Maret yang mengakibatkan penurunan kapasitas nasional pembangkit listriknya hingga 8%. Bencana tersebut menyebabkan kebocoran pada pembangkit listrik nuklir Fukushima Dai-Ichi. Jepang harus mencari bahan bakar lain seperti batubara dan gas. Terminal Richards Bay yang salah satu pemiliknya perusahaan tambang Xstrata Plc, mengirimkan batubara sebesar 91 juta ton per tahunnya dan sekitar 70% di antaranya diekspor ke India.

Dari dua raksasa dunia yang mengkonsumsi batubara yaitu China dan India, tampaknya hanya India yang demand impor-nya konsisten mengalami kenaikan. China, penghasil dan pengkonsumsi batubara terbesar di dunia, diperkirakan akan memotong impor batubara tahun ini karena harga global yang tinggi, seperti dikutip dari Bloomberg News (18/04/2011). Harga batubara di pelabuhan Newcastle, yang merupakan benchmark harga Asia, mengalami kenaikan seiring dengan cuaca buruk yang terjadi di negara-negara penghasil batubara seperti Australia, Kolombia dan Indonesia. Sebagai gambaran, kargo dari pelabuhan New South Wales menuju China bagian selatan dikenakan premium tambahan sebesar US$ 10/ton. Hal ini menjadikan impor tidak terlalu menarik bagi pembeli China.

Sementara India tengah mengalami ancaman kekurangan pasokan listrik sebagai akibat pasokan batubara domestik yang diperkirakan mengalami penurunan tahun fiskal ini seperti dikutip dari The Wall Street Journal (06/04/2011). Lebih dari setengah pembangkit listrik di India menggunakan bahan bakar batubara sehingga kesinambungan pasokan batubara menjadi penting. Coal India, perusahaan penghasil batubara terbesar di dunia, memenuhi 80% kebutuhan domestik batubara India. Namun, untuk tahun fiskal yang lalu, Coal India memotong target produksinya tiga kali berturut-turut dan untuk tahun fiskal saat ini menargetkan produksi sebesar 452 juta metrik ton, turun 7% dari target sebelumnya. Penurunan target produksi ini disebabkan masalah perizinan lingkungan yang ketat serta masalah-masalah akuisisi lahan. Selain pasokan dari Coal India, India mengimpor batubara dari Asia dan Afrika Selatan untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Untuk tahun fiskal 2011-2012 sekitar 142 juta ton batubara akan diimpor India. (JS)

PDFCetakE-mail