2014-04-10: WRTG: NYMEX Light Sweet Crude: $102.56 (2.12)
2014-04-10: WRTG: ICE Brent : $107.67 (1.85)
2014-04-10: WRTG: RBOB Gasoline NY Harbor: $2.9801 (0.0541)
2014-04-10: WRTG: Heating Oil NY Harbor: $2.9344 (0.0437)
2014-04-10: WRTG: NYMEX Natural Gas: $4.534 (0.058)
2014-04-08: OPEC: Daily Basket Price: $103.16
Jum'at, 18 April 2014

Berita

GEOLOGI

Tanah Longsor di Lombok Disebabkan oleh Tingginya Curah Hujan

Peristiwa banjir dan tanah longsor di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, dan Kabupaten Sumbawa Barat, NTB terjadi pada tanggal 9 dan 10 Januari 2009. Disamping menyebabkan rusaknya 30 rumah penduduk, terputusnya jalur penghubung antar pemukiman sebagai akibat rusaknya jembatan, dan putusnya pipa saluran air bersih di Dusun Todo, Desa Bentek, juga mengakibatkan rusaknya beberapa PLTMH di Kabupaten Lombok Barat.

Kejadian ini terjadi karena tingginya curah hujan sepanjang tanggal 9-10 Januari 2009 yang menyebabkan bobot massa tanah bertambah sehingga terjadi gerakan tanah pada lereng bagian atas yang lemah yang berbatasan dengan batuan keras pada bagian bawah. Material longsor diperkirakan membendung aliran sungai yang kemudian jebol karena tidak sanggup menahan kuatnya aliran air. Volume air yang besar kemudian mengalir di sepanjang aliran dengan menggerus kiri, kanan, dan dasar sungai sehingga menyebabkan banjir bandang yang melanda pemukiman di lereng bagian bawah.

Akibat insiden tanah longsor tersebut, beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah mengalami kerusakan. PLTMH tersebut adalah Sedau I, Sedau II, Selelanaik, dan Lantan, dengan total kerugian lebih dari Rp. 3 miliar. Diperkirakan layanan listrik untuk ± 1.150 KK akan terputus sampai dengan beroperasinya kembali PLTMH tersebut.

Masyarakat di sepanjang muara sungai dihimbau untuk tetap waspada pada saat turun hujan dan bersiap untuk mengungsi apabila curah hujan cukup tinggi dan berlangsung lama. Masyarakat dilarang untuk menebang pohon, terutama bagian tengah dan atas lereng dan merubahnya menjadi ladang, kebun, dan permukiman. Untuk jangka panjang akan dilakukan reboisasi lahan kritis, terutama lereng bagian rengah dan atas dengan tanaman berakar dalam, serta perbaikan arus sungai melalui pembuatan tanggul dan tembok penahan.

PDFCetakE-mail