2014-08-28: WRTG: NYMEX Light Sweet Crude: $93.88 (0.02)
2014-08-28: WRTG: ICE Brent: $102.72 (0.22)
2014-08-28: WRTG: RBOB Gasoline NY Harbor: $2.7459 (-0.0172)
2014-08-28: WRTG: Heating Oil NY Harbor: $2.8605 (0.0163)
2014-08-28: WRTG: NYMEX Natural Gas: $3.957 (0.046)
2014-08-26: OPEC: Daily Basket Price: $99.82
Rabu, 03 September 2014

Berita

MINERAL

Nilai Tambah Sektor Pertambangan Perlu Terus Ditingkatkan

Sektor pertambangan saat ini tetap menjadi salah satu sektor utama yang menggerakan roda perekonomian Indonesia. Indikasi ini terlihat dari kontribusi penerimaan negara yang setiap tahunnya meningkat. Sektor pertambangan juga menjadi pemicu pertumbuhan sektor lainnya serta menyediakan kesempatan kerja yang besar bagi tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Namun kontribusi sektor pertambangan dalam perekonomian nasional belum optimal menyusul masih adanya sejumlah kendala yang perlu segera diselesaikan secara tuntas.

Demikian antara lain kesimpulan yang dari Focus Group Discussion ”Peranan Sektor Pertambangan Dalam Perekonomian Nasional” yang diselenggarakan oleh Pusat Data dan Informasi ESDM, Departemen ESDM, di Jakarta, Selasa (4/12). Hadir pada acara tersebut antara lain Kepala Pusdatin ESDM, Farida Zed, Direktur Pembinaan Pengusahaan Pertambangan Mineral dan Batubara, M.S. Marpaung, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI), Soedjoko TS, Anggota Dewan penmasehat IMA dan Perhapi, Ir. Kosim Gandataruna, Ketua Umum Perhapi, Irwandy Arif dan sejumlah tokoh senior pertambangan lainnya.

Kesimpulan lainnya dari diskusi tersebut adalah bahwa penggunaan komoditi  pertambangan dalam negeri sebagai input bagi sektor industri lainnya (forward linkage) perlu terus ditingkatkan demikian pula dengan industri-industri lainnya yang menjadi input (backward linkage) bagi industri pertambangan. Hubungan ini tentu akan meningkatkan nilai tambah industri pertambangan serta dapat menggerakkan sektor tenaga kerja yang cukup besar. Saat ini saja misalnya, industri pertambangan mampu menyerap lebih dari 34 ribu tenaga kerja langsung dan puluhan ribu lainnya yang merupakan tenaga kerja tidak langsung.

Dewasa ini, pasar komoditi logam dan mineral dunia sedang mengalami “booming” harga sementara aktivitas eksplorasi dan investasi juga meningkat. Tetapi Indonesia masih belum mampu memanfaatkan kondisi yang “menarik” ini secara optimal. Hal ini disebabkan masih adanya beberapa permasalahan industri pertambangan seperti tumpang tindih lahan, peraturan-peraturan daerah yang belum kondusif dan Pertambangan Tanpa Izin (PETI).  

Sehubungan dengan kondisi-kondisi tersebut diatas, berapa rekomendasi yang dihasilkan dari diskusi ini antara lain prlunya percepatan pengesahan RUU Mineral dan Batubara sinkronisasi dan harmonisasi kebijakan seluruh produk hukum yang berkenaan dengan sektor pertambangan yang sifatnya lintas sektoral baik pusat maupun daerah, perlunya peningkatantan local expenditure dengan meningkatkan pemanfaatan produk dari industri-industri penunjang dalam negeri termasuk  mendorong pertumbuhan industri pengolahan produk mineral dalam negeri.

PDFCetakE-mail