2014-08-28: WRTG: NYMEX Light Sweet Crude: $93.88 (0.02)
2014-08-28: WRTG: ICE Brent: $102.72 (0.22)
2014-08-28: WRTG: RBOB Gasoline NY Harbor: $2.7459 (-0.0172)
2014-08-28: WRTG: Heating Oil NY Harbor: $2.8605 (0.0163)
2014-08-28: WRTG: NYMEX Natural Gas: $3.957 (0.046)
2014-08-26: OPEC: Daily Basket Price: $99.82
Rabu, 03 September 2014

Siaran Pers

SIARAN PERS

Membangun Ketahanan Energi Nasional

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

REPUBLIK INDONESIA


SIARAN PERS

NOMOR : 24/HUMAS DESDM/2008

Tanggal : April 2008


MEMBANGUN KETAHANAN ENERGI NASIONAL

 

Ketahanan Energi merupakan pilar penting Ketahanan Ekonomi. Bersama Ketahanan Budaya, Ketahanan Sosial dan Ketahanan Politik, maka Ketahanan Ekonomi merupakan unsur utama Ketahanan Nasional. Untuk itu Rapat Paripurna Kabinet tanggal 7 April 2008 yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara khusus membahas Sistem Ketahanan Energi.

Sistem Ketahanan Energi sangat penting bagi sebuah negara seperti Indonesia. Selain sebagai kemampuan merespon dinamika perubahan energi global (eksternal) juga sebagai kemandirian untuk menjamin ketersediaan energi (internal). Sistem Ketahanan Energi mengacu pada Kebijakan Pengembangan Energi sesuai Undang-Undang Energi Nomor 30 Tahun 2007, energi memiliki peran bagi peningkatan Kegiatan Ekonomi dan Ketahanan Nasional.

Pemerintah telah mengubah paradigma kebijakan dari Supply Side Policy (SSP) menjadi Demand Side Policy (DSP). Sistem Ketahanan Energi dibangun oleh SSP dan DSP. SSP mengatur Jaminan Pasokan dalam bentuk Eksplorasi-Produksi dan Konservasi (Optimasi) Produksi. Sedang DSP mendorong Kesadaran Masyarakat untuk melakukan Diversifikasi dan Konservasi (Efisiensi).

SSP dan DSP menjadi landasan kebijakan Harga Energi dalam bentuk Subsidi Langsung yang dilakukan secara bertahap. Kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) saat ini sudah memasuki Tahap V. Pada tahap ini masih ada tiga jenis BBM (Minyak Tanah, Premium dan Minyak Solar) yang sebagian harganya disubsidi. Selanjutnya pada dua tahap lagi subsidi harga BBM sudah tidak ada lagi.

Kebijakan harga energi sesuai mekanisme pasar telah terbukti menekan pengaruh oil shock secara nyata pada negara-negara yang telah menerapkannya. Selain itu juga didukung oleh kebijakan penerapan pengembangan energi alternatif (diversifikasi) dan efisiensi energi (konservasi).

Saat ini cadangan dan produksi energi Indonesia terdiri Minyak Bumi dengan sumber daya 56,6 miliar barel, cadangan 8,4 miliar barel, produksi 348 juta barel dan rasio cadangan/produksi 24 tahun. Gas bumi dengan sumber daya 334,5 TSCF, cadangan 165 TSCF, produksi 2,79 TSCF dan rasio cadangan/produksi 59 tahun.

Batubara dengan sumber daya 90,5 miliar ton, cadangan 18,7 miliar ton dan produksi 201 juta ton, sedangkan rasio cadangan/produksi 93 tahun. Coal bed methane (CBM) dengan sumber daya 453 TSCF. Tenaga air 75,67 GW, panas bumi 27 GW, mikro hydro 0,45 GW, biomass 49,81 GW, tenaga surya 4,8 kWh/m2/day, tenaga angin 9,29 GW dan uranium 3 GW untuk 11 tahun (hanya di Kalan, Kalimantan Barat).

Saat ini rasio elektrifikasi telah mencapai 64 %. Upaya pemenuhan kebutuhan listrik dilakukan baik dari sisi penyediaan maupun sisi kebutuhan. Program jangka pendek sisi penyediaan antara lain dengan mempercepat pergantian HSD menjadi MFO, mempercepat pasokan gas untuk PLTGU Muara Tawar, menurunkan susut jaringan dan meningkatkan efisiensi administrasi, penambahan kapasitas baru, pemanfaatan captive power, optimasi kapasitas terpasang dan penyelesaian dan peningkatan jaringan interkoneksi.

Sedang dari sisi kebutuhan berupa pengendalian pertumbuhan beban terutama beban puncak, penerapan tarif non subsidi untuk pelanggan mampu, sambungan baru dilakukan selektif, sosialisasi penghematan penggunaan listrik dan pemberian bantuan Lampu Hemat Energi (LHE) sebanyak 50 juta untuk potensi penurunan beban puncak 1.500 MW serta penurunan losses dengan peningkatan penertiban pencurian listrik.

Adapun program jangka menengah dan panjang berupa diversifikasi penggunaan energi primer BBM ke non BBM untuk proyek percepatan PLTU 10 ribu MW. Serta peningkatan partisipasi swasta atau Independent Power Producers (IPP) dalam penyediaan tenaga listrik.

Untuk penyediaan atau ketahanan stok BBM pada tahun 2008: Premium adalah 17 hari (17,2 juta KiloLiter-KL), Kerosene 21 hari (7,6 juta KL), Solar & Biosolar 18 hari (22,1 juta KL), Pertamax 35 hari (0,6 juta KL), Pertamax Plus 100 hari (0,2 juta KL), IDO 20 hari (0,5 juta KL) dan MFO 20 hari (5,3 juta KL) dan LPG 6,75 hari (25,118 Metrik Ton).

Dari sisi pemenuhan BBM, saat ini pemerintah telah memberikan ijin usaha pembangunan kilang. Ijin usaha pengolahan diberikan kepada PT Trans Pacific Petrochemical (100 ribu BOPD). Sedangkan ijin usaha sementara diberikan kepada PT Intanjaya Agromegah Abadi, PT Petroref Utama Nusantara, PT Kilang Muba, PT Elnusa, PT Situbondo Refinery Industri dan PT Tri Wahana Universal. Total kapasitas 2.006 ribu BOPD.

Sedang sisi kebutuhan untuk jangka pendek dilakukan konversi minyak tanah ke LPG, memberlakukan sistem subsidi tertutup dengan kartu kendali untuk minyak tanah, penggunaan smart card untuk Premium dan Solar. Selain itu juga mengembangkan Bahan Bakar Nabati, pemanfaatan gas untuk transportasi dan pemanfaatan panas bumi dan energi baru dan terbarukan. Adapun jangka menengah/panjang berupa gasifikasi batubara dan pemanfaatan coal bed methane.


Kepala Biro Hukum dan Humas

 


Sutisna Prawira

 

PDFCetakE-mail