#Kelebihan PSC Gross Split

#Model Gross Split Pertama di Dunia

April, 2017

Ariana Soemanto, ST, MT

Annisa Deasy Ratnasari, ST

Sejak pertama kali minyak bumi Indonesia ditemukan tahun 1880-an di Langkat, Sumatera Utara, berbagai fenomena industri tersebut telah terjadi. Sempat berjaya tahun 1977 dan 1995 dengan produksi minyak sekitar 1,5 juta barrel per day (bpd), saat ini hanya berproduksi hampir setengahnya atau sekitar 800 ribu bpd.

Di usia yang telah lebih dari 130 tahun, cadangan migas relatif stagnan dengan kecenderungan menurun. Rendahnya kegiatan eksplorasi menjadi penyebab utama. Seringkali penawaran wilayah kerja migas tidak laku atau nyaris tak laku. Seperti yang terjadi pada tahun 2015 dan 2016 lalu.

Menurut survey Fraser Institute tahun 2016, iklim investasi hulu migas Indonesia tidak lebih menarik dibanding Malaysia, Brunei dan India. Hulu migas Indonesia mulai jenuh, perlu di-reformasi. Mulai dari hal yang paling mendasar,yaitu Production Sharing Contract (PSC).

PSC skema gross split yang digadang menjadi PSC baru menggantikan skema cost recovery akan diuraikan dalam tulisan ini. Namun, sebelumnya perlu disimak 9 fenomena atau fakta kondisi hulu migas, yang secara langsung maupun tidak langsung turut melatarbelakangi penerapan PSC gross split tersebut.

Hak Cipta © 2019 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 18
Jakarta Pusat 10110
Telp. 021 3804242 Fax. 021 3507210
Berita Geologi Contact Center