Nelayan dan Petani Diminta Tidak Jual Bantuan Paket Konversi

Jakarta, Pendistribusian paket perdana Program Konversi BBM ke BBG untuk Nelayan dan Petani Sasaran Tahun 2020, Minggu (25/10), dilaksanakan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Pemerintah mengharapkan agar nelayan dan petani tidak menjual bantuan ini, serta menggunakannya dengan baik untuk meningkatkan taraf hidup.

"Barang ini jangan dijual ya. Mudah-mudahan bisa membantu ekonomi keluarga. Untuk pasokan LPG 3 kg, nanti akan disupervisi Pertamina," ujar Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Alimuddin Baso pada acara penyerahan simbolis paket perdana Program Konversi BBM ke BBG untuk Nelayan dan Petani Sasaran Tahun 2020 di Kabupaten Maros.

Hal senada juga dikemukakan Anggota Komisi VII DPR, Andi Yuliani Paris. "Jaga barangnya, jangan dijual. Kalau saya dengar ada yang menjual barang (bantuan), saya tidak mau memperjuangkan lagi di DPR," tegas Andi.

Paket perdana yang dibagikan Pemerintah tahun 2020 untuk nelayan di Kabupaten Maros berjumlah 579 unit. Penyerahan simbolis paket konversi untuk nelayan digelar di Pelabuhan Perikanan Bonto Bahari, Minggu (25/10) pagi.

Ini merupakan kali ketiga nelayan Kabupaten Maros mendapatkan bantuan tersebut. Sebelumnya tahun 2017, dibagikan 425 paket dan tahun 2019 sebanyak 500 paket.

Dengan menggunakan LPG 3 kg untuk melaut, penghematan yang diperoleh nelayan cukup besar. Sebagai contoh, apabila menggunakan BBM untuk melaut, rata-rata per hari dibutuhkan Rp 60.000 untuk membeli bahan bakar. Sedangkan menggunakan LPG 3 kg, hanya dibutuhkan 1 tabung yang harganya berkisar antara Rp 18.000 hingga Rp 25.000.

Sementara untuk petani di Kabupaten Maros, mendapat 308 paket perdana. Ini merupakan kali pertama petani daerah tersebut mendapatkan bantuan tersebut. Penyerahan secara simbolis digelar di Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Minggu (25/10) siang.

Dalam dua kesempatan tersebut, Alimuddin mengatakan, nelayan dan petani merupakan kelompok masyarakat yang harus diberdayakan untuk menjaga aktivitas ekonomi keluarga. Pemerintah membantu produktivitas dengan memberikan alat kerja berbahan bakar gas yang lebih murah dan ramah lingkungan.

Andi Yuliani menambahkan, penghematan yang diperoleh dari penggunaan bahan bakar gas diharapkan dapat digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anak nelayan dan petani sebagai generasi penerus. Dia juga menghimbau agar nelayan dan petani tak segan-segan mempelajari teknologi baru untuk meningkatkan produktivitas.

Program Konversi BBM ke BBG untuk Nelayan dan Petani merupakan amanat Peraturan Presiden No. 38 tahun 2019 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga LPG (Liquified Petroleum Gas) Tabung 3 Kg untuk Kapal Penangkap ikan Bagi Nelayan Sasaran dan Mesin Pompa Air bagi Petani Sasaran.

Nelayan yang menerima bantuan paket konversi harus memenuhi persyaratan yaitu nelayan pemilik kapal kurang dari 5 GT, kapal berbahan bakar bensin, memiliki daya mesin 13 HP, alat tangkap yang digunakan ramah lingkungan, belum pernah menerima bantuan sejenis dan memiliki Kartu KuSUKA.

Sedangkan persyaratan untuk petani adalah petani pemilik lahan dengan luas lahan maksimal 0,5 hektar, untuk transmigrasi maksimal 2 hektar dengan menunjukan dokumen kepemilikan lahan, memiliki identitas petani yang direkomendasikan oleh kepala desa/camat, dan disahkan oleh kepala daerah dan atau kepala dinas pertanian setempat, memiliki identitas KTP, KK dan Kartu Tani, memiliki pompa air dengan mesin pengerak lebih kecil 6,5 HP, belum pernah menerima bantuan yang sejenis (mesin pompa air) dan mesin pompa air yang dimiliki berbahan bakar bensin. (TW)