Bangganya Pak Enoh Kebagian Konkit Petani

Cianjur, Umur boleh tua, tapi semangat tak kalah dengan anak muda. Begitulah Pak Enoh Saefudin mengisi hari-harinya sebagai petani padi di Kabupaten Cianjur, di usianya yang hampir 70 tahun. Semangatnya makin membara, setelah mendapat bantuan paket perdana konverter kit berbahan bakar LPG 3 kg dari Pemerintah, sebagai bagian dari Program Konversi BBM ke BBG Untuk Mesin Pompa Air Bagi Petani Sasaran Tahun 2020.

"Saya merasa bangga dan bahagia mendapat bantuan ini dari Pemerintah. Mewakili teman-teman petani, saya mengucapkan terima kasih," ucap Enoh disela-sela acara penyerahan secara simbolis paket perdana Program Konversi BBM ke BBG di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Cianjur, pekan lalu.

Enoh merupakan salah satu dari 400 petani di Kabupaten Cianjur yang mendapat bantuan paket konversi Pemerintah. Ini merupakan kali pertama petani Cianjur mendapatkan paket tersebut. Dia berharap, bantuan ini akan mempermudah petani mengairi sawahnya. "Selama ini kami menggunakan BBM untuk pompa air, sekali mengairi sawah bisa menghabiskan 5 liter BBM. Pakai LPG 3 kg, saya diberitahu petugas kalau 1 tabung bisa 2 kali pakai," katanya.

Salah satu ketua kelompok tani di Kabupaten Cianjur ini menuturkan, dalam sepekan para petani rata-rata mengairi sawah sebanyak 2 kali, untuk sawah dengan luas maksimal 1 hektar. Artinya dibutuhkan 10 liter BBM yang tiap liternya Rp 9.000, sehingga total biaya per minggunya Rp 90.000 atau Rp 360.000 per bulan. Sehingga untuk satu musim tanam yang waktunya 3 bulan, dibutuhkan Rp 1.080.000.

Sementara menggunakan mesin pompa berbahan bakar LPG 3 kg, dalam sepekan hanya dibutuhkan 1 tabung seharga Rp 20.000 hingga Rp 25.000. Dalam satu musim tanam, dibutuhkan 12 tabung LPG 3 kg seharga Rp 300.000. Ini berarti pengeluaran hanya 30% dibandingkan menggunakan mesin pompa air berbahan bakar BBM.

Biaya yang harus dikeluarkan Enoh apabila menggunakan mesin pompa air berbahan bakar BBM bisa lebih besar, lantaran selang air yang dimilikinya sudah aus, banyak berlubang. Akibatnya, air yang disedot untuk dialirkan ke sawah tidak maksimal. "Selang kami sudah banyak yang berlubang. Paling hanya 75% airnya bisa sampai ke sawah krn banyak bocor di perjalanan. Dengan adanya alat baru ini, semua airnya bisa disalurkan ke sawah sehingga tidak butuh banyak bahan bakar," paparnya lagi.

Kegembiraan senada juga diungkapkan Dian (40), petani dari Desa Ciherang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Cianjur. Selama ini sawah miliknya merupakan tadah hujan, sehingga sangat membutuhkan bantuan mesin pompa air untuk sawahnya.

"Sawah saya sangat jauh dari irigasi. Sehingga sangat membutuhkan bantuan pompa air untuk mengairi sawah. Saya senang karena mesin pompa air pakai LPG 3 kg ini katanya lebih hemat dari pakai mesin pakai BBM," ungkapnya.

Program Konversi BBM ke BBG untuk Petani merupakan amanat Peraturan Presiden No. 38 tahun 2019 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga LPG (Liquified Petroleum Gas) Tabung 3 Kg untuk Kapal Penangkap ikan Bagi Nelayan Sasaran dan Mesin Pompa Air bagi Petani Sasaran.

Petani penerima bantuan harus memenuhi persyaratan yaitu petani pemilik lahan dengan luas lahan maksimal 0,5 hektar, untuk transmigrasi maksimal 2 hektar dengan menunjukan dokumen kepemilikan lahan, memiliki identitas petani yang direkomendasikan oleh kepala desa/camat, dan disahkan oleh kepala daerah dan atau kepala dinas pertanian setempat, memiliki identitas KTP, KK dan Kartu Tani, memiliki pompa air dengan mesin pengerak lebih kecil 6,5 HP, belum pernah menerima bantuan yang sejenis (mesin pompa air) dan mesin pompa air yang dimiliki berbahan bakar bensin.

Paket perdana yang diberikan kepada petani terdiri dari 1 unit mesin, 1 buah tabung LPG 3 kg dan 1 set konverter kit beserta asesorisnya.

Program Konversi BBM ke BBG untuk Petani Sasaran dilaksanakan Pemerintah sejak 2019 sebanyak 1.000 paket. Sementara untuk 2020, dibagikan 10.000 paket perdanadi 24 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Wajo, Kabupaten Bone, Kabupaten Takalar, Kabupaten Maros, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Indaramayu, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Sragen, Kabupaten Wonogiri, Kota Batu, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Tuban, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Bantul. (TW)