Investasi Hilir Migas 2020 Diproyeksikan US$ 3.223,39 Juta

Jakarta, Minyak dan gas bumi (migas) memegang peranan penting bagi semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Pengembangannya baik di hulu maupun hilir, membutuhkan modal dan resiko tinggi. Untuk tahun 2020, Pemerintah memproyeksikan investasi hilir migas mencapai US$ 3.223,39 juta.

"Berdasarkan prognosa, investasi hilir migas tahun 2020 mencapai US$ 3.223,39 juta, lebih tinggi dari tahun 2019 yang realisasinya mencapai US$ 1.066,23 juta. Investasi hilir migas diproyeksikan akan terus meningkat hingga tahun 2024," papar Direktur Pembinaan Program Migas Soerjaningsih, Jumat (15/5), dalam diskusi virtual yang digelar oleh PEM AKAMIGAS.

Menurut Soerja, investasi hilir migas tahun 2020 didominasi oleh kegiatan pengolahan yaitu peningkatan kapasitas kilang (RDMP) dan pembangunan kilang baru (GRR) yang mencapai 80%. Selanjutnya adalah investasi di bidang pengangkutan sebesar 14%, penyimpanan 4% dan niaga 2%.

Untuk tahun 2021, investasi hilir migas diproyeksikan sebesar US$ 7.238,90 juta. Tahun 2022 mencapai US$ 11.819,90 juta. Selanjutnya, US$ 14.531,83 juta pada tahun 2023 dan tahun 2024 mencapai US$ 13.923,36 juta.

Berdasarkan Global Competitivenes Index 2017-2018, investasi migas indonesia berada di posisi 36 dari 137 negara. Pemerintah terus berupaya memperbaiki iklim investasi, termasuk di bidang migas. Faktor utama iklim bisnis adalah birokrasi Pemerintah, stabilitas politik, regulasi perpajakan dan produktivitas tenaga kerja.

"Sektor infrastruktur juga menjadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam hal tingkat competitiveness," tambah Soerja.

Pembangunan dua kilang minyak baru di Tuban dan Bontang serta RDMP Kilang Balongan, Balikpapan, Cilacap, Dumai dan Plaju, merupakan upaya meningkatkan ketahanan energi nasional. Total investasi kilang-kilang tersebut diperkirakan US$ 68 miliar selama periode 2019-2026.

"Pemerintah berkomitmen mendukung kedaulatan energi melalui energi migas sebagai modal pembangunan dan diharapkan dapat memberikan nilai tambah positif bagi seluruh aspek pembangunan bangsa," papar Soerja.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina Ignatius Tallulembang mengatakan, pembangunan kilang membutuhkan tenaga kerja sekitar 150.000 orang pada masa konstruksi dan 12.000 orang ketika telah beroperasi. Penggunaan sumber daya lokal diperkirakan 35-50%. Sementara potensi peningkatan devisa sekitar US$ 12 miliar per tahun.

Kapasitas pengolahan kilang-kilang ini mencapai 2,1 juta barel per hari dan produksi petrokimia 12.000 kilo ton per annum (ktpa).

Tallulembang mengungkapkan, mengingat pembangunan kilang dan petrokimia membutuhkan biaya dan resiko yang besar, diperlukan mitra dalam pelaksanaannya. Dalam proses pencarian mitra ini, kata dia, berdasarkan pelajaran yang diperoleh selama ini, Pertamina membuka peluang kerja sama dengan berbagai skema bisnis.

"Skema berpartner juga kita buka lebih fleksibel. Bukan cuma dengan satu cara saja," tambahnya.

Bahkan, perusahaan pelat merah itu mendorong agar perusahaan swasta dalam negeri dapat berpartisipasi dalam pembangunan kilang serta infrastruktur lainnya seperti terminal BBM, LPG dan pelabuhan. (TW)