Pemkot Batu Apresiasi Program Konversi BBM ke BBG Untuk Petani

Jakarta, Pemerintah Kota Batu mengapresiasi Program Konversi BBM ke BBG untuk Mesin Pompa Air Petani Sasaran. Bantuan gratis sebanyak 170 paket perdana ini diharapkan bertambah jumlahnya, sehingga semua petani di kota tersebut bisa mendapatkannya.

Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso pada acara penyerahan secara simbolis paket perdana Konversi BBM ke BBG untuk Petani Sasaran di Kota Batu, Selasa (10/11), menyatakan akan mengajukan penambahan bantuan. Petani yang memenuhi persyaratan akan diajukan untuk mendapatkan bantuan.

"Bantuan ini diberikan bagi petani yang telah memiliki lahan. Untuk mendapatkan bantuan ini, para petani harus memiliki pompa air lebih dulu. Pompa air yang akan didapat petani tak ditukar. Namun hanya akan diberi tanda jika para petani-petani tersebut telah mendapatkan bantuan," tambah Punjul.

Dalam kesempatan itu, Punjul meminta agar petani menjaga dan merawat bantuan yang diberikan Pemerintah tersebut. Apabila terdapat kerusakan, dapat segera menghubungi petugas penyuluh.

Acara yang digelar di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Junrejo ini, juga dihadiri oleh Walikota Batu Dewanti Rumpoko, Ketua DPRD Kota Batu Asmadi dan Wakil Ketua DPRD Kota Batu Heli Suyanto.

Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas yang diwakili oleh Kepala Seksi Pengadaan, Pembangunan, Infrastruktur Migas, Mariani, memaparkan, salah satu upaya Pemerintah dalam menjalankan Kebijakan Energi Nasional dan mewujudkan ketahanan energi adalah dengan diversifikasi energi yaitu menyediakan energi alternatif yang dapat digunakan masyarakat. Program konversi BBM ke BBG (BBM ke LPG) untuk Petani Sasaran adalah salah satu program yang mendukung diversifikasi energi tersebut.

Tujuan program ini adalah memberikan solusi penyediaan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan mudah didapat dan turut serta menyelamatkan lingkungan dengan menekan emisi gas karbon.

"Pemanfaatan BBG untuk petani sasaran memberikan dampak positif kepada masyarakat terutama untuk petani melalui penghematan pengeluaran biaya bahan bakar. Program ini juga membantu ekonomi masyarakat petani menuju ekonomi masyarakat yang mandiri dan ramah lingkungan," papar Mariani.

Penghematan yang diperoleh dengan menggunakan BBG yaitu LPG 3 kg, cukup besar dibandingkan menggunakan BBM. Berdasarkan uji coba yang dilakukan di BPP Sragen, untuk lahan seluas 0,4 hektar, 1 tabung LPG 3 kg seharga Rp 20.000, dapat digunakan selama 8 jam. Sedangkan jika menggunakan BBM, untuk waktu yang sama dibutuhkan 8 liter bensin yang totalnya Rp 58.400.

"Dengan menggunakan alat ini bisa menghemat biaya lebih dari 50%. Dari segi keamanan, Insya Allah sangat aman. Karena langsung dibuat oleh produsennya, langsung tergabung dengan konverternya," tambah Mariani.

Petani penerima paket perdana harus memenuhi kriteria yaitu petani pemilik lahan dengan luas lahan maksimal 0,5 hektar, untuk transmigrasi maksimal 2 hektar dengan menunjukan dokumen kepemilikan lahan, memiliki identitas petani yang direkomendasikan oleh kepala desa/camat, dan disahkan oleh kepala daerah dan atau kepala dinas pertanian setempat, memiliki identitas KTP, KK dan Kartu Tani, memiliki pompa air dengan mesin pengerak lebih kecil 6,5 HP, belum pernah menerima bantuan yang sejenis (mesin pompa air) dan mesin pompa air yang dimiliki berbahan bakar bensin.

"Program yang kami canangkan ini adalah konversi. Bukan membagikan pompa," tegas Mariani.

Program Konversi BBM ke BBG untuk Petani Sasaran ini juga merupakan program sinergi antara Kementerian ESDM c.q. Ditjen Migas, Dinas yang membidangi Pertanian di Kabupaten/Kota sasaran, PT Pertamina (Persero) selaku BUMN Migas penerima penugasan serta Komisi VII DPR RI.

Paket konversi ini merupakan bagian dari 10.000 paket perdana yang dibagikan tahun 2020 ke 24 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Wajo, Kabupaten Bone, Kabupaten Taklar, Kabupaten Maros, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Indaramayu, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Sragen, Kabupaten Wonogiri, Kota Batu, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Tuban, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Bantul. (TW)