Tingkatkan Kompetensi dan Wawasan, Ditjen Migas Selenggarakan Diklat Leadership

Bogor, Untuk meningkatkan kompetensi, pengetahuan dan wawasan guna mencetak pemimpin yang sesuai dengan nilai-nilai Kementerian ESDM, jujur, profesional, melayani, inovatif dan berarti, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Leadership di Hotel Aston Sentul, Bogor, Jumat hingga Sabtu (28-29/2).

"Melalui diklat ini, diharapkan para pemimpin dapat bekerja dengan pola cerdas, cermat dan produktif ("cecep") serta dapat meningkatkan Indeks Profesionalitas (IP) Aparatur Sipil Negara (ASN) pegawai Ditjen Migas," tutur Sekretaris Ditjen Migas Iwan Prasetya Adji mewakili Plt. Dirjen Migas Ego Syahrial, ketika membuka acara tersebut.

Topik Diklat Leadership ini adalah critical thinking and creative problem solving from impossible to possible, mewujudkan SDM unggul Indonesia maju. Kegiatan diikuti oleh pejabat eselon II hingga IV, pejabat fungsional madya, pejabat pembuat komitmen (P2K) di lingkungan Ditjen Migas, serta Kepala Susmar. Hadir sebagai pembicara adalah coach leadership dan motivator Ainy Fauziah, serta produser dan sutradara film Mira Lesmana serta Riri Riza.

Sesditjen Migas memaparkan, ASN memegang peran penting bagi keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan untuk Indonesia ke depan. Di era globalisasi, digital dan teknologi 4.0, dengan banyaknya perubahan, diperlukan investasi melalui pengembangan SDM agar lebih maju dan unggul, khususnya dalam berpikir strategis, inovatif dan profesional. Salah satu cara mencetak ASN berprestasi adalah melalui diklat leadership.

ASN harus memiliki keahlian dan keterampilan sesuai bidang atau wilayah kerja yang ditekuninya. ASN juga diharapkan mengubah mindset pola pikir dari penguasa menjadi pelayanan bagi masyarakat. "ASN dituntut berjiwa melayani, sehingga tidak ada lagi model birokrasi yang priyayi. Mari kita ubah menjadi berjiwa hospitality," tegasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, ASN dituntut memiliki kompetensi teknis, manajerial, sosial, kultural melalui diklat, magang, bimbingan teknis, seminar dan lokakarya. "Dengan berbagai upaya tersebut, diharapkan akan hadir ASN yang memiliki kompetensi, sikap dan perilaku yang terukur dalam memimpin dan mengelola suatu organisasi," tambahnya.

Mengakhiri sambutannya, Sesditjen Migas meminta agar peserta diklat dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan baik serta penuh tanggung jawab. "No man will makes a great leader who want to do it all himself or get all the credit for do it," tutup Iwan mengutip perkataan Andrew Cargenie.

Leader harus terbuka, jujur dan bekerja keras
Coach leader dan motivator Indonesia Ainy Fauziah, dalam sesinya menekankan pentingnya bersikap terbuka, jujur, bekerja keras serta terus berbuat kebaikan.

"Sukses itu adalah melakukan apa yang kita bisa dalam hidup, pikiran serta pekerjaan. Apa yang kita lakukan, itu yang akan kita dapatkan karena sesungguhnya kerja tidak akan membohongi hasil," katanya.

Bekerja dengan sepenuh hati, akan berpengaruh pada hasil yang diperoleh kemudian. Setiap insan harus bangga pada hasil kerjanya, meski kecil artinya bagi pihak lain.

"Kita harus percaya diri. Kenali tujuan kita yang sebenarnya, raih tanpa kenal putus asa serta syukuri setiap pencapaiannya. Berkinerja tinggi itu berarti bekerjalah dengan hati, bukan semau sendiri," tukas Ainy.

Ainy juga menggaris bawahi pentingnya seorang leader untuk meningkatkan kemampuan dalam memandang diri sendiri, menyampaikan pendapat dan memahami dampak sikap kepada orang lain. Termasuk juga bersikap tegas terhadap rekan kerja yang melanggar aturan kerja.

"Memahami dampak sikap kita pada orang lain, menunjukkan tingginya kecerdasan emosi (EQ) kita. Orang yang punya kecerdasan emosi tinggi, berdampak 58% kinerja kita. Sebanyak 90% orang berkinerja tinggi, memiliki EQ tinggi. Orang ber-EQ tinggi memiliki penghasilan yang lebih tinggi," papar Ainy.

Untuk dapat berinovasi, kata dia, leader harus menjadikan pekerjaan sebagai hobi. "Pastikan pekerjaan menjadi dunia berwarna yang sangat kita sukai," tambah Ainy.

Sementara dalam talkshow bersama produser film dan sutradara Indonesia Mira Lesmana dan Riri Riza, kedua insan seni yang sukses tersebut berbagi pengalaman menciptakan kreasi dan bekerja sama dengan banyak pihak demi menghasilkan film yang bermutu.

"Leadership itu bagaimana kita me-manage ego, memberi ruang untuk berkreasi namun tetap tidak lupa pada tujuan utama," kata Mira Lesmana.

Salah satu contoh upaya yang dilakukan supaya proses pembuatan film berjalan lancar adalah melakukan reading, sebulan sebelum syuting. "Dalam reading itu, kita menekankan bahwa tidak ada seorang pun yang lebih penting dibandingkan lainnya. Dengan tumbuhnya kesadaran tersebut maka pekerjaan bisa berjalan lancar," tambahnya.

Sutradara Riri Riza menambahkan, untuk mendapatkan hasil maksimal, setiap insan yang terlibat dalam suatu pekerjaan harus memiliki passion. Sehingga ketika film atau produksi itu jadi, semua pihak memiliki kebanggaan yang sama.

"Dalam suatu produksi film, kita melibatkan ratusan orang dan semuanya berperan penting. Tukang lampu misalnya, pekerjaannya jangan dianggap remeh karena dengan cahaya lampu yang sesuai, maka dapat diperoleh wajah artis yang cantik atau kesan dramatis," papar Riri.

Mira dan Riri juga menekankan pentingnya seorang pemimpin memberikan contoh disiplin pada bawahannya. "Kalau pemimpin datang terlambat, maka semuanya akan terlambat. Padahal keterlambatan pada suatu proses produksi film, itu bermakna kerugian uang dalam jumlah besar. Untuk satu produksi film, rata-rata dibutuhkan uang Rp 15-20 miliar," imbuh Mira.

Mengakhiri talkshow, Mira Lesmana mengatakan bahwa seorang pemimpin dapat mencapai sukses apabila ada dukungan dari bawahan. Karenanya, sangat penting untuk mengenai karakter manusia dan organisasi yang terlibat dalam suatu tim kerja. (TW)