Webinar Bincang Kesehatan: Bangkit Lawan Corona dengan Protokol Covid-19

Jakarta, Untuk memberikan edukasi dan upaya pencegahan dampak wabah Covid-19 kepada para pegawai dan keluarga besar Kementerian ESDM, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi menyelenggarakan Webinar Bincang Kesehatan: Bangkit Lawan Corona dengan Protokol Covid-19, Selasa (22/12). Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan Peringatan Hari Ibu ke 92.

Webinar yang juga membahas mengenai pedoman sehari-hari dan kewaspadaan comorbid sebagai penyakit penyerta ini, menampilkan narasumber Direktur Profesi Tenaga Kesehatan Rumah Sakit RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, Brigjen TNI dr. Dewi Puspitorini Sp.P.Mars, MH. Turut serta dalam webinar tersebut, Ketua Dharma Wanita Persatuan Ditjen Migas, Nina Tutuka Ariadji.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji mengawali sambutannya pada acara webinar, mengucapkan terima kasih atas kesediaan Dewi Puspitorini untuk berbagi ilmu dan pengalamannya. "Narasumber kita ini seorang ibu yang memiliki prestasi dan dedikasi yang sangat luar biasa bagi bangsa dan negara Indonesia tercinta," katanya.

Lebih lanjut Tutuka mengungkapkan, dari beberapa kasus penularan virus Covid-19 yang terjadi pada pegawai Ditjen Migas, ada yang bergejala dan sebaliknya. Sebagian besar pegawai yang tertular sudah dinyatakan sembuh, namun ada 1 pegawai yang meninggal karena memiliki penyakit penyerta (comorbid). "Kami mengharapkan melalui webinar dapat diperoleh pengetahuan, langkah-langkah preventif apa yang perlu dilakukan dalam menekan wabah Covid-19," tambah Tutuka.

Dirjen migas juga mengajak para pegawai agar tak lupa bersyukur atas nikmat sehat dan agar selalu menjaga kesehatan melalui 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan. "Besar harapan semoga Covid 19 cepat berlalu dan saudara kita yang sedang sakit, mari kita doakan bersama semoga lekas sembuh dan cepat berakfitas kembali," tambahnya.

Dewi Puspitorini dalam kesempatan tersebut menyampaikan, Covid-19 masuk ke tubuh manusia melalui hidung, mulut dan mata. "Area muka harus diwaspadai karena menjadi pintu masuk virus. Oleh karenanya, kita harus menggunakan masker yang menutupi atas hidung hingga dagu. Kita tidak boleh kucek-kucek mata kalau belum cuci tangan," jelasnya.

Gejala Covid-19 yang paling sering ditemui adalah demam, batuk kering, gangguan pernapasan, lemas, nyeri tenggorokan, nyeri kepala, nyeri otot, gangguan penciuman, gangguan pengecapan, mual atau muntah dan diare.

Virus menular dapat melalui transmisi langsung yaitu droplet percikan langsung dan transmisi tidak langsung di mana droplet jatuh ke permukaan benda yang kemudian kita sentuh dengan tangan. Selanjutnya, tangan tersebut menyentuh wajah seperti muka, hidung dan mulut.

Perjalanan penyakit Covid-19, Dewi memaparkan, setelah virus masuk ke dalam tubuh, hingga 1 minggu pertama apabila dites PCR, maka akan menunjukkan positif. Rapid test antigen akan menunjukkan reaktif dan rapid test antibodi menunjukkan non reaktif. Setelah 7 hari, antibodi mulai terbentuk hingga 12 hari. Pada periode ini, apabila dilakukan PCR bisa menunjukkan positif atau negatif. Rapid test antigen akan menunjukkan non reaktif, sementara rapid test antibodi menunjukkan reaktif.

Pada pekan ketiga, virus telah hilang, hasil PCR akan menunjukkan negatif, rapid test antigen non reaktif, sedangkan rapid test antibodi menunjukkan reaktif. Meski hasil PCR menunjukkan negatif, dapat terjadi infeksi berulang. "Meski terjadi infeksi berulang, namun karena kita sudah terbentuk antibodi, biasanya reaksinya tidak seberat yang pertama. Makanya kalau sudah pernah terpapar, penyintas Covid harus tetap waspada," katanya.

Mengenai penyakit penyerta dalam Covid-19, berdasarkan data adalah hipertensi, diabetes, jantung, perokok, ginjal, asma dan kanker. "Kalau kita ada hipertensi, gula, jantung, asma, kita harus hati-hati tapi jangan cemas berlebihan," tambahnya.

Covid-19 terutama menyerang usia 19-59 tahun yang termasuk produktif. Namun kematian banyak terjadi di penderita usia di atas 60 tahun karena daya tahan tubuh yang berkurang.

Berdasarkan survei McKinsey, ada kekhawatiran yang muncul selama pandemi yaitu khawatir karena tidak mengetahui berapa lama kondisi ini akan berlangsung dan khawatir pada keselamatan diri sendiri dan keluarga. Hal ini dapat diatasi dengan berpikir positif karena orang yang berpikir positif cenderung lebih sehat.

Kekhawatiran juga dapat mengubah perilaku hidup masyarakat seperti menjaga kebersihan, rutin mengkonsumsi air putih, rajin berolahraga, makanan sehat, banyak banyak sayur dan buah, serta multivitamin.

Mengingat pandemi belum berakhir, Dewi mengingatkan agar masyarakat harus terus berdisiplin melaksanakan protokol kesehatan. "Pakai masker dengan benar, jaga jarak dan rajin cuci tangan," tegasnya.

Sementara itu mengenai klaster perkantoran, berdasarkan data, merupakan peringkat ketiga sebaran tertinggi dengan total kasus 3.194 atau sekitar 8,31% dari total kasus yang ada di DKI Jakarta. Perkantoran menjadi klaster penyebaran Covid-19 bukan berarti terpapar saat di kantor. Bisa jadi terpapar dari rumah, di perjalanan atau saat naik kendaraan umum.

"Oleh sebab itu, apabila sudah kembali ke kantor harus tetap waspada terutama yang sehari-hari menjadikan KRL, Trans Jakarta dan MRT sebagai moda transportasi menuju kantor. Harus lebih waspada karena kita berkumpul dengan banyak orang dalam satu waktu. Bisa jadi ventilasinya juga kurang baik. Bila harus meeting yang dihadiri 20 orang, misalnya, bisa ditambahkan pemakaian face shield," jelasnya.

Rapat atau pertemuan yang dilakukan secara fisik yang dilakukan di kantor, disarankan dilakukan tanpa menyajikan makanan atau minuman.

Menurut Dewi, perkembangan Covid-19 sangat dinamis sehingga kita dituntut untuk terus belajar.

Terkait vaksin, terdapat 6 kelompok prioritas penerima vaksin yaitu:
1. Tenaga medis, paramedis contact tracing, dan pelayan publik mencakup TNI, Polri dan aparat hukum.
2. Masyarakat, tokoh agama, daerah, kecamatan dan RT/RW.
3. Semua tenaga pendidik mulai dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.
4. Aparatur pemerintah baik di pusat maupun daerah serta legislatif.
5. Peserta BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI).
6. Masyarakat yang berusia 19-59 tahun.

Dewi juga menekankan pentingnya peran keluarga untuk memberikan edukasi kepada anggota keluarganya mengenai adaptasi kebiasaan baru. "Anggota keluarga yang mulai beraktivitas di luar rumah bertanggung jawab terhadap kesehatan keluarga di rumah. Jangan sampai tidak menyadari bahwa usai kembali ke rumah membawa virus tersebut ke rumah," tambahnya.

Mengakhiri paparannya, Dewi menegaskan untuk tidak memberikan stigma negatif kepada penderita Covid-19. (TW)