Tanah Longsor Kembali Terjadi di Ponorogo, Masyarakat Diminta Waspada

BANDUNG - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, kembali melaporkan terjadinya gerakan tanah longsor susulan di lokasi yang sama di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo Jawa Timur. Longsoran susulan terjadi hari ini, Minggu, (9/4), pukul 11: 47 WIB. Dilaporkan Kepala Badan Geologi, Ego Syahrial, akibat kejadian longsor susulan: 2 rumah rusak, dan 1 ekskavator, 2 mobil, 5 sepeda motor, dan 2 anjing pelacak tertimbun material longsor. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

"Telah kembali terjadi bencana longsor susulan di Ponorogo pada hari ini, Minggu,(9/4) ditempat yang sama dengan kejadian sebelumnya (Sabtu, 1 April 2017) di Desa Banaran, Kecamatan Pulung. Longsor diakibatkan oleh jebolnya material longsor yang membendung sungai dan membentuk longsor jenis aliran," ujar Ego.

Ego menjelaskan, sebelumnya Tim Badan Geologi telah memberikan rekomendasi dan disampaikan ke pihak terkait, bahwa daerah tersebut sangat berpotensi terjadi longsor susulan, dan dalam pencarian korban bencana harus waspada terhadap bencana longsor susulan (kegiatan pencarian harus dihentikan di saat hujan).

Paska kejadian longsoran pertama Badan Geologi untuk jangka pendek telah merekomendasikan sebagai berikut :
1. masyarakat di sekitar bencana perlu waspada dan disarankan untuk mengungsi ke lokasi yang aman, karena daerah bencana dan sekitarnya masih berpotensi terjadi longsor susulan.
2. Dalam pencarian korban bencana perlu waspada terhadap bencana longsor susulan (dihentikan bila terjadi hujan).
3. Masyarakat di sekitar daerah bencana perlu melakukan kontrol terhadap tanda-tanda gerakan tanah (adanya retakan, keluarnya mata air baru, mata air keruh, pohon-pohon miring, suara gemuruh dalam tanah) serta
4. Mewaspadai apabila terjadi pembendungan aliran sungai (waduk alam) di sepanjang aliran sungai
5. Tidak melakukan penebangan tanaman keras pada lereng
6. Tidak melakukan penggalian secara tegak pada lereng
7. Penataan air permukaan (run off) pada lereng
8. Menyudet genangan-genangan air (pembendungan sungai) pada aliran sungai agar tidak menimbulkan banjir bandang dikemudian hari
9. Sosialisasi bencana (khususnya tanah longsor) di daerah bencana dan sekitarnya oleh Pemda setempat

Selanjutnya untuk rekomendasi jangka panjang yakni :
1. Merelokasi rumah-rumah yang rusak dan terancam ke lokasi yang aman
2. Merubah lahan bencana dan sekitarnya menjadi lahan perkebunan dengan tanaman keras yang berakar kuat dan dalam yang berfungsi dapat menahan lereng
3. Reboisasi lahan kritis di daerah bencana dan sekitarnya (Perhutani)
4. Memasang alat peringatan dini/ alat pantau longsor.

Tim Badan Geologi telah melakukan koordinasi dan penjelasan teknis kepada Gubernur Jawa Timur dan jajarannya dan berkoordinasi dengan BNPB, Universitas Gajah Mada, BBWS, BIG, Kemeterian PUPR dan Kementerian LHK untuk penanganan bencana ini. (SF)