Bahlil Bidik Lahan Tidur Karawang Jadi Ladang Etanol, Pertamina Siap Jadi Pembeli
KARAWANG - Lahan-lahan tidur di Kabupaten Karawang berpeluang menjadi sumber bahan baku energi. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong lahan yang belum dimanfaatkan itu ditanami jagung, singkong, dan tebu sebagai bahan baku etanol, campuran bensin yang akan diwajibkan pemerintah.
Dorongan itu disampaikan Bahlil saat meresmikan Kilang LPG Cilamaya milik PT Energi Nusantara Perkasa (ENP) di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10). Di hadapan Bupati Karawang, Bahlil meminta pemerintah daerah mengarahkan lahan tidur untuk tanaman perkebunan yang menjadi bahan baku etanol.
"Etanol ini, Pak Bupati, bahan bakunya dari jagung, singkong, tebu. Nah, kalau di Karawang ini masih ada lahan-lahan tidur, itu bisa diarahkan untuk menanam hasil-hasil perkebunan yang berorientasi pada bahan baku etanol," ujar Bahlil.
Menurut Bahlil, langkah tersebut mampu menciptakan kawasan pertumbuhan ekonomi baru. Hasilnya pun sudah memiliki pembeli, karena Pertamina akan menjadi offtaker seluruh etanol yang diproduksi.
"Jadi seluruh etanol yang akan diambil, itu offtaker-nya Pertamina, karena kita akan bikin mandatory," katanya.
Kebijakan etanol melanjutkan langkah konversi energi yang lebih dulu diterapkan pada solar. Bahlil menyebut Indonesia kini tidak lagi mengimpor solar karena telah beralih ke biodiesel B50 berbahan baku minyak sawit mentah (CPO). Ke depan, pemerintah mendorong pencampuran etanol pada bensin melalui program E20.
Pengembangan etanol menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Melalui optimalisasi lahan untuk menghasilkan bahan baku etanol, pemerintah berupaya memperluas sumber pasokan energi dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi yang sejalan dengan agenda swasembada energi, hilirisasi, dan industrialisasi dalam Asta Cita Presiden.
Upaya mengurangi ketergantungan impor juga berjalan di sektor LPG. Sejak program konversi minyak tanah ke LPG dimulai pada 2007, konsumsi LPG nasional terus meningkat hingga sekitar 9 juta ton per tahun. Sementara itu, produksi dalam negeri baru sekitar 1,9 juta ton atau 21 persen, sehingga hampir 80 persen kebutuhan masih dipenuhi dari impor.
Kilang LPG Cilamaya menjadi salah satu jawabannya. Dengan pasokan gas umpan sekitar 37 MMSCFD, kilang berinvestasi USD40 juta ini memproduksi 160 ton LPG dan 320 barel kondensat per hari, serta berpotensi menyerap 82 tenaga kerja. Pemerintah juga tengah menyiapkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif LPG.
Melalui mandatori etanol dan kepastian Pertamina sebagai pembeli, pengembangan bahan bakar nabati diharapkan tidak hanya menekan impor energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi daerah penghasil bahan baku.
Share This!