DEN Gandeng AS dan Jepang Siapkan SDM Perkuat Misi Transisi Energi

Wednesday, 4 March 2026 - Dibaca 117 kali

JAKARTA - Indonesia semakin serius menuju transisi energi. Penyelenggaraan Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology (FIRST) Workshop menjadi salah satu langkah strategis memperkuat fondasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) nasional. Workshop ini merupakan kolaborasi trilateral antara Indonesia, Amerika Serikat, dan Jepang, yang difokuskan pada penguatan sumber daya manusia (SDM), kerangka regulasi, dan kesiapan ekosistem industri nuklir sipil yang aman dan berkelanjutan.

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan Kusdiana, mewakili Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, menegaskan bahwa DEN memperkuat kerja sama internasional dengan Amerika Serikat dan Jepang dalam pengembangan kapasitas SDM dan tata kelola nuklir berstandar global yang mencakup penguatan desain dan kerangka regulasi Small Modular Reactor (SMR), peningkatan kompetensi manufaktur berteknologi tinggi, serta penerapan protokol keselamatan dan keamanan nuklir yang ketat.

Sinergi tersebut memastikan Indonesia dapat membangun dan memanfatkan PLTN secara bertanggung jawab sesuai standar tertinggi dalam aspek keselamatan dan keamanan. Menurut Dadan, Indonesia berkomitmen memastikan setiap tahapan pengembangan PLTN dilaksanakan dengan prinsip keselamatan tertinggi, tata kelola yang transparan, serta kesiapan SDM yang matang.

"Nuklir menawarkan solusi energi yang stabil, rendah emisi, dan mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan kemajuan teknologi seperti SMR, pengembangan nuklir kini semakin adaptif dan relevan bagi negara berkembang," ujar Dadan.

Ia mengungkapkan bahwa lima konsumen energi terbesar di kawasan Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, yang menyumbang hampir 89 persen permintaan energi regional, tengah aktif mengeksplorasi opsi nuklir serta memperkuat kolaborasi melalui Jaringan Sub-Sektor Kerja Sama Energi Nuklir (NEC-SSN).

Langkah tersebut sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), yang menempatkan energi nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang menjaga ketahanan energi sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029.

Berdasarkan proyeksi pemerintah, kontribusi energi nuklir dalam bauran energi primer nasional ditargetkan mencapai 11,7-12,1% pada 2060, dengan kapasitas terpasang 35-42 Gigawatt (GW). Sebagai tahap awal, Indonesia menargetkan PLTN pertama beroperasi secara komersial pada 2032 dengan kapasitas awal 250 Megawatt (MW). Target tersebut telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.

Selain mendukung target dekarbonisasi dengan proyeksi kapasitas total 45 GW pada tahun 2060, energi nuklir dipilih karena efisiensi penggunaan lahan serta biaya operasional jangka panjang yang relatif rendah. Dengan memadukan pengalaman nasional dan keunggulan teknologi mitra internasional, Indonesia optimistis dapat mewujudkan sistem ketenagalistrikan yang tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

Kuasa Usaha Kedutaan Besar Amerika Serikat, Peter M. Haymond, menyampaikan bahwa bersama Jepang, Amerika Serikat merasa terhormat menjadi mitra tepercaya Indonesia yang telah lama menjalin kerja sama dalam mengembangkan energi nuklir yang aman dan bertanggung jawab. Teknologi Amerika Serikat mendukung upaya Indonesia untuk membangun masa depan energi yang aman dan tangguh.

Sementara itu, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Jepang, Mitsuru Myochin, menyampaikan bahwa dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC), Jepang berkomitmen mendukung transisi energi di Indonesia. Dengan berbekal pengalaman panjang untuk meningkatkan standar keselamatan dan transparansi, Jepang menyatakan kesiapannya untuk berdiri berdampingan dengan Indonesia sebagai mitra strategis, baik dalam bentuk kerjasama teknis antara pengambil kebijakan, regulator, dan industri, serta pengembangan sumber daya manusia guna mengakselerasi pencapaian target energi jangka panjang Indonesia.

FIRST Workshop merupakan kolaborasi antara Dewan Energi Nasional, Institut Teknologi PLN, dan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia dengan U.S. Department of State's FIRST Program, Advanced Systems Technology & Management (AdSTM), The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS), serta JAIF International Cooperation Center (JICC).

Forum ini mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, pelaku industri, dan pakar energi nuklir untuk membahas berbagai aspek krusial pengembangan PLTN, mulai dari teknologi SMR, kerangka regulasi, perizinan, pengembangan SDM, hingga peluang partisipasi industri nasional. (DKD)

Share This!