Kementerian ESDM Dorong Tata Ruang Nagekeo Berbasis Mitigasi Bencana
NAGEKEO - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong Pemerintah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), memastikan setiap pembangunan memperhatikan tata ruang dan tingkat kerawanan bencana. Langkah ini penting agar pembangunan, termasuk bentuk dan kekuatan bangunan, disesuaikan dengan karakteristik wilayah yang memiliki potensi gempa bumi, tanah longsor, dan banjir.
Ketua Tim ESDM Siaga Bencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rudy Sufahriadi, mengatakan kondisi wilayah Nagekeo yang rawan bencana harus menjadi perhatian dalam setiap pembangunan. Masyarakat maupun pemerintah daerah perlu mengantisipasi potensi bencana dengan memastikan bangunan memiliki ketahanan yang sesuai dengan kondisi wilayah.
"Memang tempat ini, lokasi ini, kabupaten ini memang rawan bencana. Untuk itu kita antisipasi. Jadi bentuk bangunan, bentuk apapun juga harus tahu karena rawan bencana, kekuatan harus lebih beda dari tempat yang lain," ujar Rudy usai memberian bantuan bingkisan dan pengobatan gratis bagi masyarakat terdampak gempa di Kantor Bupati Nagekeo, Kamis (1/10).
Menurut Rudy, Kementerian ESDM melalui Badan Geologi juga akan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Kabupaten Nagekeo mengenai kawasan yang memiliki tingkat kerawanan bencana, lokasi yang perlu dipertimbangkan untuk relokasi, serta wilayah yang relatif aman untuk pembangunan.
"Mana yang rawan bencana, mana yang harus relokasi, mana tempat yang aman, tata ruangnya akan dihitung lagi. Nanti akan diberikan masukan ke Pak Bupati dalam waktu dekat," kata Rudy.
Rekomendasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu dasar bagi Pemerintah Kabupaten Nagekeo dalam melakukan penataan ruang dan pembangunan daerah. Dengan mempertimbangkan aspek kebencanaan sejak tahap perencanaan, risiko kerusakan bangunan dan dampak terhadap masyarakat dapat ditekan.
Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, menyampaikan bahwa kondisi geografis wilayahnya memang memiliki potensi terhadap berbagai jenis bencana. Ia menyebut dari 14 kategori bencana, terdapat 10 kategori yang berpotensi terjadi di Nagekeo.
"Artinya saya mau katakan bahwa Nagekeo berpotensi bencana baik bencana gempa maupun tanah longsor maupun banjir," ujar Simplisius.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Nagekeo berharap dukungan pemerintah pusat tidak hanya dalam bentuk penanganan pascabencana, tetapi juga penguatan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.
Simplisius mengatakan, dukungan fasilitas penanganan darurat seperti kendaraan, tandon air, terpal, dan tenda pengungsian dibutuhkan untuk memperkuat kesiapan daerah menghadapi potensi bencana.
"Kita tidak berharap adanya bencana tapi kita tahu kondisi wilayah kita adalah rawan bencana. Kami mengalami kesulitan itu semua saat terjadi bencana," tuturnya.
Nagekeo Masuk Kawasan Rawan Gempa Menengah hingga Tinggi
Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian ESDM, wilayah Kabupaten Nagekeo yang terdampak gempa bumi berada pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gempa Bumi Menengah hingga Tinggi. Pada KRB Gempa Bumi Menengah, wilayah berpotensi mengalami guncangan dengan intensitas VII-VIII MMI, sedangkan KRB Gempa Bumi Tinggi berpotensi mengalami guncangan lebih dari VIII MMI.
Atas kondisi tersebut, Badan Geologi merekomendasikan agar pembangunan di kawasan rawan gempa memperhatikan kaidah bangun[01/10/26, 12.42.18] Akupei: an tahan gempa. Selain itu, bangunan perlu dilengkapi dengan jalur evakuasi sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko ketika terjadi bencana.
Kementerian ESDM melalui Badan Geologi selanjutnya akan memberikan masukan terkait tingkat kerawanan wilayah sebagai bahan pertimbangan Pemerintah Kabupaten Nagekeo dalam penataan ruang. Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong pembangunan daerah yang lebih aman dan selaras dengan kondisi geologi setempat.
Share This!