Pembangkit Listrik Diharap Bersiap Hadapi Transisi Energi

Wednesday, 7 February 2024 - Dibaca 134 kali

Sejumlah pembangkit listrik di Provinsi Jawa Tengah diharapkan bersiap menghadapi tantangan transformasi menuju transisi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Wanhar dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Adipala di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (07/02/202).

"Kami berharap PLN Provinsi Jawa Tengah dapat berakselerasi mengadopsi teknologi terbaru, meningkatkan proporsi co-firing dalam pembangkit, memperkuat infrastruktur, dan meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat," ungkap Wanhar.

Dalam kesempatan itu Wanhar menyampaikan bahwa sektor ketenagalistrikan saat ini menghadapi tantangan transformasi menuju energi bersih dan berkelanjutan. PLN mayoritas sebagai penyedia layanan listrik di Indonesia memiliki peran yang krusial dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu pusat kegiatan industri dan perdagangan di Indonesia tentu memiliki tantangan tersendiri dalam memastikan ketersediaan listrik yang andal dan berkesinambungan.

"Kami berharap PLN Provinsi Jawa Tengah dapat berakselerasi mengadopsi teknologi terbaru, meningkatkan proporsi co-firing dalam pembangkit, memperkuat infrastruktur, dan meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat," ungkap Wanhar.

Seperti diketahui, dalam upaya peningkatan akses kepada masyarakat, secara nasional capaian Rasio Elektrifikasi tahun 2023 sebesar 99,79%, dan Rasio Desa Berlistrik 99,83%. Untuk Provinsi Jawa Tengah, capaian Rasio elektrifikasi tahun 2023 telah mencapai 99,99%, dan Rasio Desa Berlistrik 100%.

Ketua Tim Kunjungan Kerja Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto menyampaikan bahwa kunker ini dilakukan dalam rangka komitmen Komisi VII terhadap energi yang lebih ramah lingkungan sehingga bisa bersinergi dengan energi terbarukan dalam mencapai target Net Zero Emission (NZE) di Tahun 2060.

"Komisi VII DPR RI memang sengaja datang ke PLTU Adipala, karena mendengar bahwa pembangkit ini merupakan the best practice dalam hal kelistrikan, dan kita semua berkomitmen semua energi kita orientasikan dan kita hitung dengan NZE," ungkap Sugeng.

Ketua Komisi VII menyampaikan bahwa PLTU Cilacap sungguh luar biasa, meskipun kapasitas terpasangnya 660 MW namun baru 59% yang digunakan, karena terkendala transmisi.

"Transmisi memang bagian yang akan kita kembangkan menjadi smart grid, bahkan kita merancang Nusantara Grid, dengan smart grid masuknya energi baru terbarukan yang intermittent baik secara daya atau apapun bisa tertampung dengan baik," ungkap Sugeng.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Distribusi PT PLN (Persero), Adi Priyanto menyampaikan bahwa PLN telah berhasil melakukan implementasi Co-Firing pada 43 lokasi PLTU, salah satunya adalah PLTU Adipala.

Adi menjelaskan bahwa PLTU Adipala memiliki daya mampu pasok sebesar 645 MW, dan mulai implementasi Co-firing Biomassa tahun 2021, dimana energi hijau yang diproduksi sebesar 22,92 GWh sampai dengan akhir tahun 2023. Dimana secara Nasional produksi energi hijau dari Co-firing sebesar 1,04 TWh dan penurunan emisi yang diperoleh sebesar 1.052.384 Ton CO2.

Untuk memastikan ketersediaan listrik yang handal dan berkesinambungan, Pemerintah sangat mendukung usaha PT PLN (Persero) dalam pengembangan pembangkit listrik dengan energi bersih dan ramah lingkungan.

"Diversifikasi co-firing ini tentu saja menjadi perhatian kita, karena limbah akan terus ada sepanjang masa, untuk itu kami mohon arahan dari Komisi VII DPR untuk pemerintah khususnya PLTU Adipala, agar dapat menghadapi tantangan transformasi menuju energi bersih dan berkelanjutan" pungkas Wanhar. (RA)