Badan Geologi Kawal Ciletuh Jadi Geopark Dunia

BANDUNG - Setelah berhasil menjadi inisiator Geopark Kaldera Batur dan Geopark Gunug Sewu menjadi Geopark Dunia, kini Badan Geologi terus menggawal kawasan Ciletuh-Palabuhanratu yang sudah berstatus Geopark Nasional segera menjadi geopark dunia. Jika ini berhasil maka Ciletuh-Palabuhanratu akan menjadi Geopark ke-3 yang diakui dunia. Berkenaan dengan pengembangan Geopark di Indonesia, Badan Geologi juga menjadi institusi yang ikut membantu resminya pengakuan Geopark Nasional Rinjani, Toba, dan Merangin Jambi.

Geopark (taman bumi) merupakan konsep baru model pemanfaatan warisan kebumian untuk keberlangsungan hidup masyarakat lokal secara berkesinambungan. Pada intinya, konsep taman bumi dunia yang digagas UNESCO itu adalah pola pengembangan kawasan secara berkelanjutan yang memadukan tiga keragaman, yaitu keragaman geologi, hayati, dan budaya. Tujuan pengelolaannya adalah mengembangkan ekonomi masyarakat setempat dengan berasaskan perlindungan atas ketiga keragaman yang terdapat dalam kawasan itu.

c-Ciletuh%20Geopark.jpg

"Berkaitan dengan rencana mewujudkan kawasan Ciletuh dan Palabuhanratu menjadi Geopark, Badan Geologi sudah sejak beberapa tahun lalu menjajaki kegiatan inventarisasi keragaman geologi sekaligus warisan geologinya," ujar Kepala Badan geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Ego Syahrial kepada esdm.go.id. Sabtu (6/5).

Menurut Ego, dari sudut pandang kegeologian, kawasan Ciletuh-Palabuan Ratu menampilkan keunikan dan eksotika tersendiri, seperti Curug Cikaso salah satu curug favorit untuk dikunjungi. "Kawasan ini memberikan bukti terjadinya tumbukan lempeng tektonika (lempeng) samudera dengan lempeng benua. Kegiatan yang awalnya diinisiasi oleh Badan Geologi tersebut selanjutnya bergayung sambut dengan kegiatan ilmiah yang dilakukan baik oleh kalangan perguruan tinggi maupun dinas-dinas terkait yang ada di lingkungan Provinsi Jawa Barat,"jelas Ego.

Geopark Ciletuh pada 22 Desember 2015 menjadi Anggota Jaringan Geopark Nasional. Karena wilayahnya diperluas maka Geopark Ciletuh menjadi Anggota Jaringan Geopark Nasional dengan nama Geopark Ciletuh-Palabuhanratu pada 21 Juni 2016 meliputi kawasan seluas 1.261 km2 mencakup 74 desa, memiliki 24 situs geologi. Bentuk amfiteater dengan diameter lebih dari 15 km, sehingga di yakini sebagai bentuk amfiteater alam terbesar di Indonesia berumur lebih dari 65 juta tahun lalu.

Sebagaimana manfaat geopark pada umumnya, Kawasan Ciletuh-Palabuhanratu dapat dijadikan tempat pembelajaran kebumian, konservasi, dan memberikan kemanfaatan kepada Masyarakat. Semoga ragam pesona geologi, hayati, dan budaya yang disuguhkan di Kawasan Ciletuh-Palabuhanratu dengan semangat pemerintah daerah dan masyarakat serta dukungan Badan Geologi dan Instansi terkait dapat segera mewujudkan Kawasan ini menjadi Geopark dunia. Untuk itu dengan segala doa dan upaya semoga Ciletuh-Palabuhanratu dapat menggapai impiannya menjadi Geopark dunia dan dapat memenuhi janjinya membagi keberkahan sesuai tujuan dan cita-cita mulia lahirnya geopark.