Kaban Geologi : Menghindari Longsor Berulang, Perlu Dibuat Penguat Lereng Tebing

BANDUNG - Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ego Syahrial meminta kepada Pemerintah Daerah setempat untuk membangun penguat lereng tebing untuk menghindari berulangnya terjadinya gerakan tanah berupa tanah longsor di Jalur Jalan Raya Sulawesi Poros Tenggara. Selain membangun penguat lereng tebing perlu juga di wilayah terdampak longsoran ditanami pohon yang kuat untuk menahan lereng.

"Untuk menghindari berulangnya gerakan tanah seperti yang terjadi pada hari Jumat 12 Mei 2017 sekitar pukul 05.30 WITA di Jalur Jalan Raya Sulawesi Poros Tenggara. Wilayah sekitar longsoran perlu dilakukan penataan dan pengendalian air permukaan dengan membuat saluran drainase di atas lereng maupun di sepanjang jalan raya serta dibuat penguat lereng tebing dan menanaminya dengan pohon yang berakar kuat untuk menahan lereng," ujar Ego Syahrial dalam laporannya kepada Menteri ESDM pagi ini, Rabu (17/5).

Ego menjelaskan, lokasi tersebut masih berpotensi untuk terjadi gerakan tanah pada Jalur Jalan Raya Sulawesi Poros Tenggara khususnya bagi pengguna jalan di sekitar lokasi bencana maupun pemukiman disisi tebing yang terjal karenanya perlu juga dipasangi rambu-rambu longsor.

"Perlu kewaspadaan masyarakat yang tinggal di sekitar tebing terutama pada saat hujan deras berlangsung lama agar mengungsi karena longsoran yang terjadi pada tanggal 12 Mei 2017 tersebut pemicunya hujan deras yang turun semalaman," ujar Ego.

Diinformasikan, gerakan tanah yang terjadi pada hari Jumat 12 Mei 2017 sekitar pukul 05.30 WITA di Jalur Jalan Raya Sulawesi Poros Tenggara. mengakibatkan 1 unit kendaraan roda dua tertimpa material longsor mengakibatkan 7 (tujuh) orang meninggal dunia, 10 (sepuluh) luka luka, 10 (sepuluh) rumah yang berada ditepi jalan raya ini terlanda longsoran dan lalu lintas terputus selama sehari.

Jenis Gerakan tanah /Tanah longsor yang terjadi merupakan gerakan tanah tipe nendatan/ amblesan dan longsoran bahan rombakan. Longsoran ini bergerak cepat melalui kemiringan lereng yang terjal, berawal dari hujan deras tiada henti semalam yang mengakibatkan lereng jenuh air. Air meresap masuk kedalam tanah lapukan yang tebal, sarang, mudah menyerap air,sehingga bobot masatanah bertambah dan kestabilan terganggu dan tanah bergerak menjadi longsor besar melalui bidang gelincir antara tanah pelapukan dan batuan penyusun lava basal. Selanjutnya material longsorini menerjang badan jalanraya dan beberapa rumah di tepi jalan raya.(SF)

Hak Cipta © 2017 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 18
Jakarta Pusat 10110
Telp. 021 3804242 Fax. 021 3507210