Upaya PPSDM Geominerba dan UPTD Laboratorium ESDM Provinsi Jabar Meminimalisir Gagalnya Pemboran

Bandung - Diberlakukannya Otonomi Daerah merupakan titik awal bagi daerah untuk mengelola daerahnya sendiri, dimana pemerintah daerah diberi kewenangan untuk mengurus sendiri urusan pemerintahan, termasuk didalamnya pengelolaan sektor energi dan sumber daya mineral. Berdasarkan hal tersebut maka pemerintah pusat memiliki kewajiban untuk meningkatkan kompetensi aparatur pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya gelogi yang ada di daerahnya masing-masing untuk melakukan inventarisasi potensi dan pengawasan kegiatan eksplorasi yang ada di daerah.

Melihat pentingnya hal tersebut, PPSDM Geominerba bekerja sama dengan UPTD Laboratorium ESDM Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Diklat Aplikasi Geolistrik untuk Eksplorasi Air Tanah. Hal tersebut dilakukan untuk mendukung penyediaan SDM di lapangan sehingga aparat pelaksana di Dinas ESDM maupun di UPTD Laboratorium ESDM dapat menggunakan alat geolistrik dan dapat membaca hasil data geolistrik yang disampaikan oleh pengguna air tanah di Jawa Barat.

Kepala UPTD Laboratorium ESDM Provinsi Jawa Barat, Noorfian Iskandar, S.T., M.T. didampingi Kepala Sub Bidang Penyelenggaraan Pengembangan SDM, Suherman Resmana, dan salah satu Widyaiswara PPSDM Geominerba, Antonius Alex Harmoko, membuka diklat secara resmi pagi tadi (30/7), di Gedung Diklat PPSDM Geominerba, Bandung.

Mengawali sambutannya, Noorfian menceritakan sejarah berdirinya UPTD Laboratorium ESDM Provinsi Jawa Barat pada Tahun 1996. "Saat ini UPTD Laboratorium ESDM Provinsi Jawa Barat sudah mendapat akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) yang dalam pelaksanaannya sudah menerapkan sistem mutu SNI ISO/IEC 17025:2017." tambah Noorfian.

Sebanyak 17 orang anggota Asosiasi UPTD Laboratorium ESDM Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Sulawesi Utara mengikuti diklat yang akan berlangsung selama tiga hari (30 Juli - 1 Agustus 2019). Para peserta pun akan melakukan praktik lapangan di Kampus Lapangan.

Praktik lapangan tersebut mencakup pengukuran Geolistrik Tahanan Jenis, Penyajian dan Penyiapan Data Tahanan Jenis, serta Pengolahan dan Interpretasi Tahanan Jenis.

"Diharapkan dengan adanya hasil eksplorasi geolistrik, kemungkinan adanya gagal pemboran akibat tidak adanya air dapat diminimalisir." sambut Noorfian saat pembukaan diklat. (IR)