Dirjen Toto : Fokus Pada Ketahanan Energi

BANDUNG - Pemerintah harapkan seluruh elemen masyarakat turut membangun industri bioenergi di Indonesia guna mendukung upaya ketahanan dan keberlanjutan energi nasional, hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), FX Sutijastoto, Sabtu lalu (6/4) saat menjadi salah satu narasumber pada Seminar Chemurgy Innovation Summit 2019 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Bioenergi dan Kemurgi (HMTB) Fakultas Teknologi Industri - Institut Teknologi Bandung.

"Bioenergi ini merupakan tulang punggung kita untuk menggantikan ketergantungan kita akan minyak bumi, yang kini kondisinya sudah semakin berkurang. Walaupun sudah berkurang dari 50% namun produksi kita hanya separuhnya," tutur Toto, begitu ia akrab disapa.

Sebagai negara agraris, sumber energi Indonesia pada masa yang akan datang merupakan bioenergi dan saat ini Pemerintah bersama dengan pihak terkait sedang mengembangkan konsep agri energi industri. "Sebagai regulator, kami memfasilitasi bagaimana inovasi-inovasi dari perguruan tinggi ini masuk ke industri ini untuk konsialisasi, oleh karena itu penelitian-penelitian itu harus didorong sampai kepada industri," jelas Dirjen Toto. "Menurut penelitian, ekonomi di Indonesia pada tahun 2030 bisa menjadi nomor 5 dunia, jadi peluang untuk berkembangnya sangat tinggi, nah konsekuensinya ada kebutuhan energinya meningkat, jadi fokus saya ada di ketahanan energi," tandasnya.

Toto pun menjelaskan Pemerintah melalui Kementerian ESDM terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan energi bagi seluruh masyarakat Indonesia sampai wilayah pelosok guna mewujudkan energi berkeadilan dan sesuai dengan Kebijakan Energi Nasional (KEN), diantaranya melalui program Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) di wilayah terpencil, terluar dan terisolir dan implementasi BBM 1 harga di seluruh Indonesia. Saat ini rasio elektrifikasi sudah 98,3% dan ditargetkan mencapai 99.9%. Sementara itu, Indonesia juga telah menerapkan Program Mandatori B20 yang menandakan bahwa Indonesia memiliki bahan baku bioetanol. Disinilah pentingnya bioenergi karena dapat dipakai untuk pembangkit tenaga listrik. Dirjen Toto mengharapkan para mahasiswa dapat berinovasi bagaimana menciptakan pembangkit yang efisien supaya terjangkau dengan bahan baku setempat agar biaya logistik pengadaannya murah.

"Bagi saudara-saudara kita yang belum dapat aliran listrik, kita bagikan LTSHE tapi hanya sementara, hanya 3 atau 4 tahun masa pakainya. Nantinya akan diusahakan dengan energi yang suistainable atau berkelanjutan. Nah disinilah bioenergi dibutuhkan melalui PLT Biomassa, begitu mereka bisa mengakses energi modern, yaitu listrik, pasti akan memicu peradaban baru dan yang pasti ekonominya terbangun, anak-anaknya punya masa depan," ujar Toto. (RWS/DLP)