Diskusi Peluang Pengembangan Panas Bumi Temperatur Menengah

JAKARTA - Sebagai salah satu ajang mencari solusi dan bertukar pendapat dalam pengembangan panas bumi temperatur menengah, Direktorat Jenderal EBTKE menggelar Focus Group Discussion (FGD) Peluang Pengembangan Panas Bumi Temperatur Menengah, yang digelar di Aula Kantor Ditjen EBTKE kemarin (10/4). Acara ini dilaksanakan untuk mencari solusi bersama bagaimana strategi pengembangan dan inovasi teknologi pembangkit apa yang paling efisien untuk pengembangan panas bumi temperatur menengah, guna mendorong pencapaian target bauran energi (energy mix) sebesar 23% di tahun 2025, dimana sekitar 7% atau setara 7.200 Mwe berasal dari PLTP.

Direktur Jenderal EBTKE, F.X. Sutijastoto mengungkapkan bahwa kegiatan FGD ini merupakan sebuah upaya untuk mencapai target bauran energi dengan cara menggerakkan seluruh stakeholder terkait. "Terus terang, target panas bumi ini dapat tercapai kalau ada investasi yang tinggi, oleh karena nya keterlibatan seluruh stakeholder itu sangat penting", pungkas Toto.

Total sumber daya panas bumi yang dimiliki Indonesia sekitar 25,386.5 Mwe, namun hanya 1.948 Mwe yang diproduksi dari pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), dimana PLTP yang berproduksi saat ini semuanya bersumber dari sistem panas bumi temperatur tinggi (T reservoir >2250 C). Potensi panas bumi temperatur menengah di Indonesia tersebar di 167 lokasi dari total 349 lokasi panas bumi yang teridentifikasi atau sekitar 46% dengan total sumber daya sebesar 8.677 MWe. Saat ini, ada 65 WKP yang sudah dikeluarkan, 16 WKP diantaranya mempunyai temperatur menengah atau sekitar 25% dengan potensi sekitar 1.370 Mwe.

"Tugas kita itu adalah menyiapkan tarif, saya berharap dalam forum ini dibahas secara spesifik bagaimana solusi pengembangannya. Pak Menteri Jonan juga sudah mengarahkan bahwa para engineer itu harus bisa benar-benar menginterpretasikan inovasi", ujar Toto.

Karakteristik panas bumi bertemperatur menengah, antaralain (i) estimasi temperatur reservoir 125-2250C, (ii) mempunyai potensi yang kecil-sedang, umumnya dibawah 50 Mwe, (iii) penyebarannya berada di lingkungan sistem panas bumi non-volcanic dan sebagian kecil di lingkungan vulkanik berumur tersier, dan (iv) umumnya mempunyai kedalaman reservoir yang relatif dangkal sekitar 600-800 meter.

Sudah ada teknologi pembangkit untuk memanfaatkan energi panas bumi temperatur menengah menjadi energi listrik, yaitu teknologi siklus binary (binary cycle). Teknologi ini bekerja dengan menggunakan fluida sekunder (Butana/Pentana). Siklus binary ini merupakan siklus tertutup dimana seluruh fluida diinjeksikan kembali ke dalam bumi, sehingga akan menghasilkan zero-emission.

Saat ini, pengembangan panas bumi di Indonesia masih terfokus pada daerah panas bumi bertemperatur tinggi, dan masih terkendala belum adanya data pengeboran eksplorasi di daerah panas bumi bertemperatur menengah. Adapun teknologi pembangkit siklus binary untuk pengembangan panas bumi bertemperatur menengah relatif masih lebih mahal dibandingkan dengan pembangkit konvensional. Berbagai tantangan lain seperti belum adanya kesepakatan harga listrik/PPA, lokasi wilayah yang berada di hutan konservasi (termasuk dalam world heritage) dapat memunculkan isu sosial dan kendala di perizinan, belum lagi pendanaan proyek untuk eksplorasi membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Namun, 60% area prospek panas bumi dengan sumber daya panas bumi temperatur menengah berada di daerah Bali, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara dengan BPP Pembangkitan di atas rata-rata BPP Pembangkitan Nasional sebesar 7,86 cent USD/kWh. Kiranya hal ini menjadi daya tarik dan peluang tersendiri untuk pengembangan panas bumi ke depan mengingat keekonomian yang diharapkan oleh investor potensial dapat diakomodir dengan harga jual listrik yang cukup menarik saat ini. (DLP)

d58153f834739ff200d8485ec67be193_p.jpg