Ditjen EBTKE Dorong Peran Akademisi Atasi Tantangan Bidang SDM dalam Pengembangan Panas Bumi

JAKARTA - Dengan potensi yang sangat besar sekitar 23,9 GW, panas bumi diharapkan akan menjadi tulang punggung penyediaan energi bersih di masa depan. Hingga saat ini Indonesia baru berhasil mengembangkan PLTP hingga beroperasi sebesar 2130,7 MW, sementara pada Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) energi panas bumi ditargetkan dapat memberikan kontribusi sebesar 16% terhadap konsumsi energi nasional atau setara 7,2GW. Oleh karena itu, peran panas bumi dalam pencapaian target bauran EBT menjadi sangat strategis sehingga perlu dukungan berbagai pihak dalam pengembangan panas bumi dari sisi regulasi, investasi dan akademisi.

Pada pelaksanaan Transfer Knowledge Geothermal Goes to Campus (GGTC) Kelas Tertentu 2020 yang diselenggarakan secara daring di Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) hari ini (27/11), Direktur Panas Bumi Ida Nuryatin Finahari mengungkapkan salah satu tantangan dalam pengembangan panas bumi di Indonesia adalah terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki keahlian dibidang panas bumi.

"Kondisi ini, di satu sisi menjadi hambatan dalam pengembangan panas bumi, tapi disisi yang lain, khusus bagi adik-adik mahasiswa tentunya ini menjadi peluang manakala adik-adik nanti telah menyelesaikan studi dan mulai memasuki dunia kerja. Sektor ini memberikan kesempatan besar, yang semestinya bisa dimanfaatkan oleh kalian semua, mengingat pengembangan 7.000 MW tambahan PLTP tentu akan memerlukan SDM dalam jumlah yang banyak" tutur Ida.

Namun demikian, lanjutnya, agar pembangunan tersebut dapat berlangsung lebih cepat, perlu dukungan SDM yang siap kerja dan yang tidak kalah penting adalah dukungan temuan-temuan teknologi dan penelitian-penelian baru. Melihat target yang ditetapkan dalam RUEN, ada pekerjaan sangat besar yaitu mengejar tambahan pembangunan 7.000 MW PLTP hingga tahun 2025. Artinya, untuk mencapai target tersebut, perlu mengoperasikan tambahan 750-800 MW setiap tahunnya. Sebagai gambaran, untuk tahun 2020 diperkirakan Indonesia hanya akan mampu mengoperasikan 140 MW PLTP. Oleh karenanya perlu ada percepatan dan dibutuhkan kerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan besar di bidang panas bumi tersebut.

"Inilah salah satu yang menjadi tujuan dari program Geothermal Goes to Campus yang kita laksanakan saat ini, yakni supaya terbangun link and match antara kebutuhan industri panas bumi sebagai pengguna SDM dengan kampus sebagai penghasil SDM," imbuh Ida.

GGTC di ITS ini merupakan kegiatan yang keempat kalinya yang dilaksanakan, setelah yang pertama tahun 2017, kedua tahun 2018 dan ketiga tahun 2019 dengan menghadirkan beberapa narasumber baik dari perusahaan maupun juga dari Kementerian. Kegiatan ini masih akan berlanjut, karena saat ini Direktorat Panas Bumi telah memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan dan Kebumian, Institut Teknologi Sepuluh November tentang Penyelenggaraan Kegiatan GGTC.

Pada kesempatan ini, Ida juga meminta kampus ITS untuk dapat membantu Pemerintah dalam upaya memperluas penyampaian informasi pengembangan panas bumi yang akurat dan positif kepada masyarakat. "Pengembangan panas bumi masih sering berhadapan dengan permasalahan sosial yang berkaitan dengan penolakan masyarakat. Seringkali masyarakat menerima informasi yang tidak benar dari pihak yang tidak bertanggungjawab mengenai pengembangan panas bumi yang memicu munculnya penolakan baik dari LSM maupun masyarakat. Oleh karena itu, perguruan tinggi sebagai lembaga yang independensinya dipercaya oleh masyarakat, kiranya dapat membantu kami," pungkas Ida.

Sebagai informasi, khusus untuk Jawa Timur, terdapat potensi panas bumi yang cukup besar dengan 11 titik potensi panas bumi meliputi 7 WKP antara lain Blawan Ijen, Gn. Iyang Argopuro, Telaga Ngebel, Arjuno Welirang, Gunung Pandan, Gunung Wilis dan Songgoriti. Total kapasitas terpasang hingga saat ini di Provinsi Jawa Timur sebesar 60 MW. (RWS/DLP)