Film Semesta: Membumikan Isu Energi Terbarukan Bagi Anak Muda

JAKARTA - Pemerintah sangat mendukung inisiatif berbagai pihak dalam menggaungkan semangat energi terbarukan, termasuk melalui kegiatan kreatif dan kekinian yang disukai berbagai kalangan, utamanya anak muda. Dengan sosialisasi isu energi terbarukan yang dikaitkan dengan isu-isu yang sedang berkembang di kalangan generasi milenial ini, isu energi terbarukan menjadi hal yang tidak lagi eksklusif dan menjadi bagian percakapan sehari-hari anak muda, yang dapat meningkatkan peran nyata dari mereka.

Salah satu nya adalah kegiatan Nonton Bareng dan Diskusi Publik #RuangAksi ke-20 bertajuk Belajar dari Semesta Untuk Alam Indonesia yang diselenggarakan kemarin (5/3), salah satu kegiatan yang diinisiasi oleh Koaksi Indonesia, organisasi nirlaba di Indonesia yang berfokus pada isu energi. Kegiatan ini ditujukan untuk menyadartahukan anak muda yang mengangkat topik energi terbarukan dan dikaitkan dengan isu-isu yang sedang happening.

"Secara tugas ini adalah tugas dari Ditjen EBTKE tapi Koaksi telah membantu menyosialisasikan mengenai EBT. Kami sangat mengapresiasi inisiatif dan dukungan nyata ini," ungkap Kepala Subdit Keteknikan dan Lingkungan Bioenergi, Effendi Manurung yang hadir mewakili Direktur Jenderal EBTKE pada kegiatan tersebut.

Diskusi publik yang mengangkat isu energi terbarukan itu dikaitkan dengan cerita yang diangkat film SEMESTA. Film dokumenter karya sutradara Chairun Nissa serta diproduseri oleh Nicholas Saputra dan Mandy Marahimin ini berkisah tentang tujuh sosok di tujuh provinsi Indonesia yang memiliki inisiatif menjaga lingkungan dengan cara yang berbeda-beda. Melalui langkah kecil namun berdampak besar, guna memperlambat dampak perubahan iklim berdasarkan agama, kepercayaan dan kebudayaan masing-masing. Setiap babak cerita yang ditampilkan dikemas dengan menarik, diiringi dengan visual yang menampilkan keindahan alam Indonesia.

"Ada beberapa kalimat yang bisa saya ambil dari film Semesta ini contohnya seperti ini "dalam kegiatan Nyepi di Bali dalam satu kali pelaksanaan Nyepi mampu mengurangi 30 ribu ton CO2" yang akhirnya bisa mengurasi pemanasan global akibat pembakaran karbon," tutur Effendi. Bahwa dengan konservasi energi kita bisa mengurangi emisi, contoh lainnya seperti mematikan tv, lampu atau AC yang sudah tidak digunakan.

4e544490a39f4d9351b4db545831097b_p.jpeg

Pada salah satu scene film Semesta, Mengambil latar di NTT soal pembangkit listrik tenaga air mikrohidro berbasis kampung. Adanya PLTMH merupakan bentuk nyata yang dapat dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada energi berbahan fosil. Namun dikisahkan pada film ini ada masalah bencana yaitu banjir bandang yang mengakibatkan kerusakan pada alat PLTMH tersebut. Ini artinya untuk merawat PLTMH, juga harus merawat alam sekitar dimana area hutan yang di atas sungai harus dijaga kelestariannya sehingga tidak menimbulkan banjir. Pesan yang ingin dibagikan bahwa, yang pertama masyarakat diwajibkan untuk menjaga kelestarian lingkungan supaya PLTMH berfungsi dengan baik, dan dengan hadirnya PLTMH maka masyarakat tidak bergantung lagi pada bahan bakar fosil, yang tadinya digunakan untuk menyalakan genset sehingga bisa mengurangi pembakaran emisi.

Menurut Effendi, film ini dapat menjadi media yang baik dalam upaya sosialisasi energi terbarukan terutama bagi kalangan muda. "Inspirasi yang diangkat dalam menjaga alam dari lingkaran kecil yang berdampak besar pada film ini sangatlah menarik. Cara mudah untuk membumikan isu energi terbarukan untuk kalangan muda khususnya yang kemasannya sangat kekinian namun tetap menyentuh unsur budaya. Kami berharap generasi muda dapat mengambil pesan positif dari film ini dan terdorong untuk melakukan inisiatif serupa di lingkungannya," pungkas Effendi. (RWS)