Peran Perempuan Dalam Efisiensi Energi Melalui Pemanfaatan Lampu LED

JAKARTA - Pemerintah telah melaksanakan berbagai program untuk dapat mengajak masyarakat menerapkan konservasi energi, diantaranya kebijakan penerapan manajemen energi bagi pengguna energi besar lebih dari 6000 ton oil equifalen (ToE), pengembangan kompetensi manajer energi dan auditor energi, penerapan standar kinerja energi minimum dan label peralatan efisien energi, serta diseminasi dan sosialisasi peningkatan kesadaran publik terhadap konservasi energi.

Direktorat Konservasi Energi melalui program Adlight bekerja sama dengan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) menyelenggarakan sosialisasiPeran Perempuan dalam Efisiensi Energi dengan tema Pemanfaatan Teknologi Lampu LED (light emitting diode). Program Adlight sendiri merupakan kerja sama antara Kementerian ESDM dengan UNDP (United Nations Development Programme) dan UNEP (United Nations Environment Programme) yang akan berlangsung dalam kurun waktu 2020-2023.

Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai teknologi lampu hemat energi dan produk lokal lampu LED, mendorong perubahan perilaku pengguna energi dari yang tidak terlalu peduli menjadi peduli akan penghematan energi dan mengimplementasikan penggunaan lampu hemat energi dengan menggunakan peralatan hemat energi khususnya produk lokal lampu hemat energi kepada kelompok perempuan,.

"Perempuan memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan di sektor rumah tangga, untuk mengendalikan atau mengelola konsumsi energi listriknya. Kami berharap kaum perempuan dapat menjadi agen perubahan untuk mendorong kegiatan efisiensi energi yang dapat diawali dengan pemanfaatan lampu hemat energi atau lampu LED. Selanjutnya dapat menjadi duta konservasi energi setelah menggunakan peralatan hemat energi", ujar Direktur Konservasi Energi, Luh Nyoman Puspa Dewi dalam sambutannya membuka kegiatan Webinar Peran Perempuan dalam Efisiensi Energi Pemanfaatan Teknologi Lampu LED hari ini (16/2) secara virtual.

07c71f03d0c3587a6ba9e804bca96f02_p.jpeg

Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Mike Ferawati mengungkapkan bahwa lima tahun terakhir KPI ikut mengawal isu terkait energi karena perempuan dan energi haruslah menjadi sebuah integrasi isu.

"Saya sangat senang Kementerian ESDM melibatkan KPI untuk bersama belajar dan menggali informasi sebanyak-banyaknya terkait peran perempuan dalam efisiensi energi, faktanya apabila perempuan tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang bagaimana memanfaatkan energi maka perempuan pun akan bergantung dan tidak mampu melakukan gerakan-gerakan yang sebenarnya berkontribusi pada efektifitas dalam penggunaan energi juga menciptakan energi baru dan bersih", kata Mike.

Senada dengan Mike, Dian Ariyani, Presidium Nasional Perempuan Petani KPI memaparkan perempuan dan energi sangat berkaitan erat. Dalam aktivitasnya setiap hari, perempuan bergelut dengan penggunaan energi seperti penggunaan peralatan masak rice cooker, dispenser air, kulkas, mesin cuci dan alat rumah tangga lainnya. Energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan yang dilakukan KPI, yang beranggotakan hampir 50 ribu perempuan di 199 cabang/kabupaten di Indonesia. Faktor penting terkait energi bagi perempuan adalah ketersediaan, keterjangkauandengan harga murah, mudah, aman, sederhana dan cukup dikenal atau familiar.

Posisi KPI terhadap kebijakan EBT yaitu mendukung kebijakan Pemerintah, mendorong pembahasan RUU EBT, melindungi dan memenuhi kebutuhan rumah tangga, mendorong adanya pasal-pasal yang mengatur perlindungan inisiatif masyarakat dalam membangun, mengembangkan dan memanfaatkan EBT.KPI memiliki mandat untuk melakukan kebijakan dan mengedukasi seluruh perempuan baik di perkotaan maupun pedesaan. Edukasi efisiensi energi yang dapat menghemat belanja bulanan termasuk edukasi penggunaan LED sebagai langkah efisiensi energi.

"Edukasi efisiensi energi oleh Pemerintah sebaiknya terus digaungkan atau disosialisasikan untuk menghasilkan penghematan energi di sektor rumah tangga", pungkas Dian.

Ia menyampaikan isu dan tantangan perempuan dalam pengembangan dan pemanfaatan energi bersih termasuk perilaku konservasi energi yaitu perempuan belum familiar dengan EBT, minimnya pengetahuan, isu perempuan dan energi masih sangat minim, perempuan tidak tahu atau tidak dapat berpartisipasi, perempuan tidak dapat turut serta dalam pengambilan keputusan, dan perempuan tidak dapat/kurang menikmati manfaat EBT.

Dari hasil survei konsumsi rumah tangga, rice cooker, kulkas dan lampu adalah tiga peralatan rumah tangga teratas yang paling tinggi mengonsumsi energi, sehingga sosialisasi efisiensi energi di sektor rumah tangga harus terus digencarkan. Ketika membicarakan efisiensi energi tentu harus mengaitkan antara konsumsi energi dengan produktivitas.

"Tentu kita mau menggunakan sedikit mungkin energi tapi produktivitas tidak boleh terganggu, yang paling bagus itu penggunaan energi berkurang tapi produktivitas kita naik, jadi hemat energi bisa kita simpulan menggunakan energi secara efisien dan rasional tanpa mengurangi tingkat keselamatan, produktivitas dan kenyamanan", kata Rahmi Andarini, dari Universitas Multimedia Nusantara, yang hadir menjadi salah satu narasumber pada webinar ini.

Rahmi menjelaskan cara penghematan energi dalam rumah tangga yang utama ada di tata cahaya, sebisa mungkin rumah memanfaatkan cahaya matahari sebagai energi, danpencahayaan buatan digunakan dengan memilih lampu yang hemat energi atau efisien seperti lampu LED, memiliki usia pakai yang lebih efisien dibandingkan lampu bohlam. Biaya listrik lampu LED lebih murah dari pijar dan CFL (compact fluorescent lamp) karena pemakaian KwH lebih irit. Misalnya pemakaian KwH selama 50.000 jam (5,7 tahun) untuk lampu pijar adalah sebesar 3.000 CFL sebesar 700 dan LED sebesar 300 dan terakhir dengan mencatat pemakaian listrik bulanan.

Konservasi energi tak hanya persoalan efisiensi, tapi juga bagaimana diversifikasi penggunaan energi yang bukan hanya mengandalkan satu sumber energi tapi juga berusaha menggunakan berbagai macam sumber daya energi alternatif lain yang tersedia. Perbedaan konservasi energi dan efisiensi energi, pertama melestarikan sumber daya energi dalam negeri kemudian juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan. Efisiensi energi adalah usaha yang dilakukan untuk mengurangi jumlah energi yang dibutuhkan, tapi tetap mendapatkan hasil yang sama.

"Kami dari Direktorat Konservasi Energi telah melakukan beberapa studi kaitannya dengan penggunaan lampu LED ataupun segala macam lampu di Indonesia, signifikan sekali penggunaan lampu baik di rumah tangga, perkantoran dan lainnya. Oleh karena itu kami memfokuskan salah satunya mulai dari penerapan lampu yang hemat energi, yang bisa berkontribusi terhadap target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK)", jelas Florentius Hendro Gunawan, Koordinator Bimbingan Teknis dan Kerja Sama Konservasi Energi.

Hendo mengungkpakan hal penting yang harus dilakukan adalah bagaimana meningkatkan kesadaran hemat energi bagi masyarakat. Telah tersedia aplikasi kalkulator energi (unduh di Playstore) yang dapat membantu mensimulasi berapa pengeluaran energi rumah tangga pada tiap peralatan dan berapa yang sudah dilakukan penghematan. (DLP)