Rekomendasi Kajian BEM UI Untuk Transisi Energi Menuju Energi Bersih

JAKARTA - Hampir seluruh negara di dunia mendapat pengaruh tren transisi energi yang dialami secara global. Transisi energi memiliki periode waktu dan saat ini berada dalam masa transisi dari penggunaan batu bara ke penggunaan selain batu bara. Beberapa lembaga dunia sudah menerapkan kebijakan untuk mendukung pelaksanaan transisi tersebut. Kebijakan ini akan secara nyata mendorong Pemerintah untuk semakin giat meningkatkan pemanfaatan EBT sebagai sumber energi bersih.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Jenderal EBTKE, Dadan Kusdiana dalam Seminar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia terkait Kajian Isu Energi yang dilaksanakan secara virtual pada hari ini, Rabu (25/11).

Pada kesempatan ini, perwakilan BEM UI menyampaikan rekomendasi kepada Pemerintah untuk segera menyusun kembali kebijakan energi nasional yang menargetkan nol persen batu bara dan melaksanakan transisi menuju energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber energi potensial di lokasi setempat.

"Di dunia sekarang trennya adalah transisi energi, sekarang ini dari batu bara sedang transisi ke bukan batu bara. Beberapa lembaga dunia sudah menerapkan kebijakannya misalkan kita sudah tidak mendapatkan lagi pendanaan dari luar untuk pembangunan batubara jadi memang secara nyata kita sudah sulit untuk pembangunan PLTU batu bara di dalam negeri," ungkap Dadan.

Transisi energi juga berlangsung pada penggunaan energi fosil yang berbasis karbon, dimana energi fosil yang emisinya menghasilkan CO2 juga mengalami transisi ke arah dekarboninasi atau emisi karbonnya hilang. Oleh karenanya negara kita akan bertransisi ke energi yang semakin bersih. Indonesia sendiri sebagai anggota PBB berkomitmen mensukseskan target Sustainable Development Goals dimana semua wilayah sudah mendapatkan akses energi tanpa terkecuali pada tahun 2030. Merespon proses transisi ini, pemanfaatan batu bara akan mengalami pergeseran dan tidak lagi menjadi sumber utama listrik dan akan didorong untuk menjadi produk yang lain.

"Saya ulangi kita punya sumber batu bara yang banyak dan menjadi modal dasar ekonomi di dalam negeri tetapi tidak diarahkan untuk pembangkit PLTU yang baru. Kalau dalam bahasa kebijakan ini disebut hilirisasi batubara yaitu batu baranya tidak habis dibakar tapi menjadi produk lain," tandas Dadan.

"PLTU batu bara yang sudah lama umurnya yang dulu menggunakan pembakaran kini kita ganti dengan bahan yang ramah lingkungan yaitu dari biomassa. Saya mengajak adik-adik semua melihat bahwa kita terlalu banyak menggunakan batu bara tapi juga batu bara merupakan kekayaan di negeri ini. Kemudian memikirkan CO2nya ini bisa digeser dan dimanfaatkan sehingga menjadi berkah." pungkasnya. (RWS/DLP)

e08650130022f3b20a6dd3b8c809791c_p.jpeg