Sharing Session Mengenal Cluster Covid-19 dan Peningkatan Imunitas Pegawai

1ae384431c3e57878164c8502e93076f_p.png JAKARTA - Guna menambah kewaspadaan dan pengetahuan pegawai dalam menghadapi masa pandemi Covid-19, Direktorat Jenderal EBTKE menggelar kegiatan sharing session melalui webinar bertajuk Kenali Cluster Covid-19 dan Perkuat Imunitas Pegawai di Lingkungan Direktorat Jenderal EBTKE, hari ini (Kamis,29/1). Sekretaris Direktorat Jenderal EBTKE, M. Halim Sari Wardana dalam sambutannya menghimbau para pegawai di lingkungan Ditjen EBTKE untuk selalu waspada akan tingkat penyebaran Covid-19 terutama di wilayah Jabodetabek, dimana lokasi kantor Direktorat Jenderal EBTKE berada, yaitu kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

"Kita sudah hampir setahun ya mengalami pandemi ini artinya sampai saat ini kita harus selalu waspada, cluster itu semacam wilayah zona yang beresiko, saya kan juga alumni, penyintas Covid-19. Virus ini memang ada dan cukup mengkhawatirkan jadi yang perlu menjadi fokus kita itu adalah kehati-hatian dan ketat menerapkan protokol Kesehatan", ujar Halim.

Webinar ini menghadirkan narasumber Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Muhammad Alkaff, SpPD dan dr Yohan Samudra, SpGK yang merupakan Spesialis Gizi dan Klinik. Tak hanya itu, hadir pula tiga orang pegawai Ditjen EBTKE yang merupakan penyintas Covid-19 untuk berbagi pengalaman ketika menjalani pengobatan dan isolasi mandiri. Kegiatan ini dimoderatori oleh dr. Jihan Syukriah, yang merupakan tenaga Kesehatan yang bertugas di Klinik Pratama Direktorat Jenderal EBTKE.

Situasi global saat ini, sebanyak 99 juta orang telah terdampak Covid 19 dan di Indonesia sudah menembus diangka 1 juta. Tingkat kematian dari kasus infeksi Covid-19 sudah mencapai 2,8%, perhari nya sudah tembus 13.000 kasus. Covid 19 ini termasuk penyakit sistemik, artinya semua organ bisa terdampak, pintu masuknya dari paru-paru lalu semua organ bisa terkena.

"Tidak jarang pasien datang dengan serangan jantung atau serangan stroke bukan hanya dengan batuk atau deman, jadi penyakit ini mengganggu seluruh organ. Belum ada satu obat definitif atau no single pil jadi obat yang kita pakai diseluruh dunia maupun Indonesia adalah kombinasi banyak obat. Tentu saja yang harus kita lakukan adalah mencegah, karena belum ada single pil, penyebarannya cepat sekali, kematian lebih tinggi seluruh dunia", papar dr. Alkaf, yang merupakan anggota Tim Satgas Covid-19 Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga Tim Mitigasi IDI Cabang Jakarta Pusat.

Menurut keterangannya, pasien Covid-19 datang ke Rumah Sakit bisa datang dengan segala gejala. Memang yang paling utama adalah demam, batuk, dan nyeri tenggorokan. Tapi ternyata banyak juga pasien yang tidak mengalami tiga gejala itu, ada yang datang dengan diare, jantung berdebar, stroke, serangan jantung dan lain-lain. Semua golongan, umur, laki-laki atau perempuan bisa terkena Covid 19. Gejala pada minggu pertama, terdapat di tenggorokan bagian belakang lalu langsung masuk ke gerbang seluruh badan. Jadi yang paling bagus untuk pengecekan adalah swab tenggorokan, jadi bisa ditemukan virusnya. Waktu terbaik untuk swab tenggorokan yaitu saat ada tiga gejala tadi pada hari ke 4 sampai ke 18. Artinya apabila kita demam hari pertama lalu di swab masih ada kemungkinan negatif palsu atau virus tidak ditemukan padahal ada.

Hingga Januari 2021, belum ada tanda-tanda pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Tingkat kewaspadaan tak boleh kendor, malah harus lebih keras lagi. Kematian akibat Covid-19 di Asia Tenggara ternyata nomor 1 di dunia.

"Kita lupa menjaga jarak kepada teman, saudara, dan kolega, inilah yang sering menjadi penyebab tingginya cluster keluarga dan cluster perkantoran, karena kita sering membuka masker jika berada pada circle itu untuk ngobrol, makan bareng. Kita bisa tertular Covid-19 karena salah satu dari mereka bisa saja OTG (Orang Tanpa Gejala). Utamanya kita harus waspada dengan keluarga yang berbeda rumah dengan kita karena kita tidak tahu bagaiman aktivitas mereka", jelas dr. Yohan.

Sebagai seorang spesialis gizi dan klinik, ia merekomendasikan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh, yang berasal dari dalam, dengan mengkonsumi makanan yang bergizi, menjaga berat badan ideal dan memperbaiki pola hidup untuk meningkatkan imunitas tubuh. Kita tidak akan bisa kaya imun dan kaya akan daya tahan tubuh dalam semalam jadi harus menabung, butuh proses dari hari ke hari.

Menurutnya, orang dengan Covid-19 banyak ditemukan vitamin A nya kurang atau sedikit karena vitamin A menjaga kekuatan sel saluran pernapasan dan usus, untuk pembentukan antibody. Vitamin A merupakan kunci sel imun dalam melakukan tugasnya. Untuk vitamin C bagus untuk daya tahan tubuh, bisa untuk antioksidan dan radikal bebas yang memperburuk kondisi pasien. Kemudian peran vitamin D menjadi vitamin yang paling bagus menggeser vitamin C. Karena ditemukan pada pasien Covid 19 vitamin D dalam darahnya itu kurang, karena vitamin D bersifat anti-inflamasi dan imonomodulasi, yang dapat mempercepat penyembuhan Covid-19 dan juga dapat mencegah penyakit lainnya.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan, Harris, yang merupakan penyintas Covid-19 dan baru saja dinyatakan sembuh dari Covid-19 mengungkapkan pengalamannya tertular Covid-19. Ia dinyatakan positif Covid-19 pada 4 Januari 2021 setelah melaksanakan swab test mandiri karena merasakan gejala seperti demam (suhu mencapai 38,1), pusing dan mengalami rasa gatal.

"Setelah mengetahui hasil swab positif, saya pun meminta agar keluarga saya di tes dan hasilnya dua anak saya juga kena, ini mungkin yang disebut cluster keluarga", ungkap Harris.

Ia melakukan isolasi mandiri di hotel dengan arahan dari dr. Jihan selama 9 hari, dan mengikuti seluruh anjuran dokter untuk minum obat, vitamin lalu ada anti virusnya, yang disemprot ke hidung, lalu berjemur. Pada 13 Januari 2021, Harris dinyatakan negative Covid-19 dengan CT 24. (DLP)

f60366f396a25a9fe240d19f248e0c8a_p.jpeg