Cadangan Migas 136,5 Juta BOE Berhasil Ditemukan di 3 Lapangan

Jakarta, Pengembangan lapangan minyak dan gas bumi Indonesia menunjukkan hasil menggembirakan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat keberhasilan penemuan cadangan migas di 3 lapangan sepanjang kuartal I tahun 2020 yang diperkirakan mencapai 136,5 juta barel setara minyak (BOE).

Kementerian ESDM dalam siaran persnya, Sabtu (18/4), menyatakan, Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) pada laporannya menjelaskan bahwa temuan tersebut terdiri dari satu temuan cadangan minyak oleh Texcal Mahato setelah menyelesaikan pengeboran sumur eksplorasi PB-2 Blok Mahato sebesar 61,8 juta barel minyak.

Selanjutnya, Medco E&P berhasil menemukan cadangan gas dari pengeboran sumur Bronang-2 sebesar 79 miliar kaki kubik gas (BCFG). Penemuan Lapangan Bronang menjadi penunjang pengembangan Lapangan Faroel sehingga produksinya bisa mencapai hingga 10.000 barel minyak per hari (BOPD).

Terakhir, cadangan gas sebesar 333,6 BCFG ditemukan Pertamina EP (PEP) dari hasil penyelesaian pengerjaan eksplorasi sumur Wolai-002 di Banggai, Sulawesi Tengah.

Atas temuan cadangan migas tersebut, Pemerintah mengharapkan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) segera mengusulkan proposal Plan of Development.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam penyampaian kinerja SKK Migas Kuartal I pada hari Kamis (16/4) di Jakarta, memaparkan, secara keseluruhan sepanjang Kuartal I tahun 2020, perbandingan antara cadangan migas yang ditemukan dengan yang diproduksi (Reserve Replacement Ratio/RRR) di Indonesia mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya. Hingga 31 Maret, RRR migas di Indonesia mencapai 47,5 juta barel setara minyak.

"Kenaikan ini tak lepas dari kontribusi penemuan cadangan Lapangan di Lapangan OPLL West Natuna terutama di bulan Maret sebesar 6%," tambahnya.

Terkait produksi migas, diperkirakan dalam setahun ke depan akan lebih sulit mengingat penurunan kegiatan ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19. Diperkirakan juga terjadi penurunan pendapatan dari US$ 32 miliar menjadi US$ 19 miliar.

Penurunan gross revenue ini terjadi akibat kondisi harga minyak dan kebijakan perubahan paradigma bahwa sektor migas bukan lagi sebagai sumber pendapatan negara tetapi lebih sebagai penggerak ekonomi.

Meski demikian, Pemerintah tidak lantas tinggal diam. Sejumlah langkah akan dilakukan, antara lain berkoordinasi dengan KKKS terkait untuk melakukan review kerja di tahun 2020. Review kerja meliputi negosiasi ulang atas kontrak-kontrak yang ada oleh KKKS demi menciptakan efisiensi biaya.

Selain itu, melakukan comprehensive assessment terkait opsi-opsi harga minyak untuk memperhitungkan keekonomian di lapangan, serta mengevaluasi kembali penundaan planned shutdown hingga mempertimbangkan pemberian paket stimulus kepada KKKS.

Terakhir, berkoordinasi dengan stakeholder terkait atas pengecualian mobilisasi barang dan personel untuk industri hulu migas selama masa pandemi Covid-19. (TW)