Kembangkan Metanol, Kementerian ESDM Gandeng The Methanol Institute

Jakarta, Pengembangan energi bersih menjadi salah satu perhatian utama Pemerintah. Untuk lebih mengembangkan metanol sebagai sumber energi, serta mempercepat penggunaan energi bersih di Indonesia dan juga mendukung ketahanan energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menggandeng The Methanol Institute.

Penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dengan The Methanol Institute, digelar secara virtual, Selasa (30/3). Mewakili Kementerian ESDM adalah Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji dan The Methanol Institute diwakili Chief Executive Officer (CEO), Gregory Dolan.

Dalam nota kesepahaman ini, Kementerian ESDM dan The Methanol Institute bersepakat untuk bertukar informasi mengenai industri metanol, termasuk perkembangan teknologi dan pemanfaatannya sebagai produk energi dan melakukan penelitian bersama berbasis karya tulis ilmiah mengenai metanol sebagai produk energi di Indonesia.

Selain itu, mengembangkan kemampuan teknis para pemangku kepentingan yang berasal dari Indonesia, termasuk pejabat pemerintah dan pihak swasta, serta mengadakan seminar, lokakarya, konferensi dan mengembangkan kegiatan kerja sama terkait lainnya yang disepakati keduanya.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji mengawali sambutannya mengatakan, meskipun pandemi Covid-19 masih belum tuntas, tidak menghambat kedua pihak untuk memulai kerja sama. Atas teknologi informasi yang telah maju saat ini, hambatan lokasi dan perbedaan waktu, dapat diatasi dengan cara yang lebih efektif dan efisien.

Penandatanganan LoI ini menjadi salah satu perhatian Menteri ESDM yang langsung menugaskan Dirjen Migas menjadi perwakilan Kementerian ESDM dalam menandatangani LoI. "Meskipun pada saat ini kedua pihak hanya menandatangani LoI, namun diharapkan kerja sama ini dapat terus berkembang dan tidak berhenti hanya pada penandatanganan saja," ujar Dirjen Migas.

Mengingat cakupan bidang kerja sama yang cukup luas tersebut, Dirjen Migas meminta unit di lingkungan Kementerian ESDM turut terlibat aktif dalam merealisasikan kerja sama ini, terutama Badan Penelitian dan Pengembangan, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi, Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, serta unit di lingkungan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi.

Dirjen Tutuka juga menyanpaikan terima kasih kepada The Methanol Institute atas dukungannya dalam pengembangan metanol di Indonesia. "Saya berharap atas dukungan The Methanol Institute, pemanfaatan metanol sebagai sumber energi dapat mempercepat penggunaan energi bersih di Indonesia dan juga mendukung ketahanan energi Indonesia," tutupnya.

CEO The Methanol Institute Gregory Dolan menyambut gembira kerja sama ini karena merupakan peluang yang bagus dalam pengembangan metanol sebagai salah satu energi bersih.

Pengembangan metanol sebagai sumber energi, menghadapi sejumlah tantangan. Antara lain, dampak kegiatan ekonomi terhadap lingkungan. Oleh karena itu, Pemerintah dan sektor bisnis harus turut berpartisipasi dalam program ini.

Tantangan lainnya adalah memastikan antara ketahanan energi dan transisi atau peralihan energi. Bagi konomi berkembang, transisi energi jangan menjadi hal yang menakutkan, tapi harus didukung untuk pertumbuhan ekonomi.

Empat area kerja sama
Berdasarkan LoI, kerja sama antara Kementerian dan The Methanol Institute dibagi dalam empat area yaitu peningkatan kapasitas, rekomendasi kebijakan, kajian awal mengenai potensi metanol dan forum metanol di Indonesia.

Peningkatan kapasitas bertujuan membangun pemahaman mengenai metanol dan industrinya untuk membekali Pemerintah Indonesia dengan pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan mengenai metanol sebagai produk energi di Indonesia, sesuai dengan kebijakan Pemerintah dalam hal ketahanan energi, ekonomi dan mitigasi perubahan iklim.

Strategi yang dilakukan adalah menyelenggarakan lokakarya bersama dengan Pemerintah Indonesia untuk berbagi informasi mengenai industri metanol, metanol sebagai produk energi dalam berbagai penggunaan dan metanol sebagai solusi mitigasi perubahan iklim.

Area kedua adalah rekomendasi kebijakan di mana The Methanol Institute akan memberikan rekomendasi kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan metanol dan pemanfaatannya sebagai sebuah produk energi alternatif dengan tetap mempertimbangkan keberadaan sumber daya lokal.

Strateginya, The Methanol Institute akan menganalisa dengan cermat potensi metanol sebagai produk energi alternatif di Indonesia, serta merekomendasikan rencana dan strategi atas pengembangan metanol di Indonesia dengan tetap memberikan nilai ekonomisnya dibandingkan energi alternatif lainnya.

Selanjutnya adalah kajian awal mengenai potensi etanol yang bertujuan mengkaji potensi teoritis, teknis dan pasar pengembangan metanol di Indonesia, termasuk bio-metanol dari limbah biomassa.

Strategi yang akan dilakukan adalah mengembangkan studi bersama antara dalam menganalisa potensi pengembangan metanol sebagai produk energi, terutama bio-metanol dari limbah biomassa, di wilayah tertentu di Indonesia.

Terakhir, Forum Metanol di Indonesia dengan tujuan memfasilitasi sektor swasta Indonesia untuk bertemu dan berhubungan dengan produsen, distributor dan penyedia teknologi metanol internasional, dengan tujuan membangun kemitraan komersial dan strategis.

Kementerian ESDM dan The Methanol Institute akan bersama-sama menyelenggarakan Forum Metanol di Indonesia dengan pihak swasta terkait dan industri metanol internasional, untuk berbagi dan membahas peluang kerja sama pengembangan metanol di Indonesia. (TW)