Di Hadapan Menteri Energi Indo-Pasifik, Menteri ESDM Tegaskan Kolaborasi Saling Menguntungkan di Sektor Energi

Minggu, 15 Maret 2026 - Dibaca 138 kali

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS

NOMOR: 010.Pers/04/SJI/2025

Tanggal: 3 Maret 2026

Di Hadapan Menteri Energi Indo-Pasifik, Menteri ESDM Tegaskan Kolaborasi Saling Menguntungkan di Sektor Energi

Di tengah ketegangan geopolitik yang terjadi saat ini, isu ketahanan energi kembali mengemuka dalam forum kawasan Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang pada Minggu (15/3) waktu setempat.

Pertemuan para menteri dan pelaku industri energi dari negara-negara Indo-Pasifik itu menjadi ruang diskusi tentang bagaimana negara - negara di kawasan dapat memperkuat kerja sama untuk mendukung ketahanan energi yang saat ini dirasa semakin krusial di tengah konflik timur tengah..

"Di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia saat ini, kita perlu memperkuat kolaborasi yang saling mengangkat satu sama lain bukan justru saling menjatuhkan satu sama lain," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di hadapan para delegasi.

"Indonesia menunjukan komitmen tersebut diantaranya dengan mengirimkan 150 kargo Liquefied Natural Gas tahun 2025 lalu untuk mendukung pasokan energi dunia. Selain itu, Indonesia juga mengirimkan sekitar setengah pasokan batu bara yang diperdagangkan di dunia," lanjut Bahlil.

Menurutnya, ekspor energi dari Indonesia dalam jumlah besar tersebut turut memperkuat pasokan energi global.

Bahlil juga menyinggung bahwa ketika kolaborasi yang saling menguntungkan tersebut tidak dilakukan, maka setiap negara perlu tetap memprioritaskan kepentingan masyarakat domestiknya.

"Sebagai salah satu negara importir minyak, jika kebutuhan minyak tersebut tidak dapat kami amankan maka kami tidak memiliki pilihan kecuali untuk memanfaatkan potensi energi yang ada di dalam negeri termasuk meningkatkan porsi Crude Palm Oil yang diubah menjadi biodiesel," jelasnya.

Indonesia sendiri merupakan produsen dan eksportir CPO terbesar di dunia. Tiap tahun Indonesia mengekspor CPO hingga 30 juta ton.

Bahlil menjelaskan bahwa di tengah kelangkaan energi saat ini, setiap negara memprioritaskan kebutuhannya masing-masing. "Meski ada Perjanjian Paris yang mendesak transisi dari batu bara, faktanya saat ini banyak negara yang meningkatkan impor batu bara nya dari Indonesia," jelasnya.

Di saat yang sama, pemerintah terus berkomitmen untuk mendorong transisi energi dan pengembangan energi terbarukan termasuk untuk melakukan diversifikasi sumber energi guna memperkuat ketahanan energi nasional. Komitmen tersebut diantaranya tercermin dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia dapat mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt.

"Indonesia sangat berkomitmen untuk terus mendorong transisi energi termasuk melalui program PLTS 100 GW dengan prioritas jangka pendek berupa eliminasi PLTD diesel dengan PLTS," tegasnya.

Sebagai informasi, Forum di Tokyo ini menjadi pertemuan tingkat tinggi yang mempertemukan pemerintah dan pelaku usaha energi untuk membahas keamanan pasokan energi di kawasan Indo-Pasifik. Kegiatan tersebut diselenggarakan bersama oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang dan National Energy Dominance Council Amerika Serikat.

Pertemuan itu menghasilkan pernyataan bersama yang menekankan pentingnya memperkuat ketahanan energi kawasan sekaligus menghormati jalur transisi energi yang dipilih masing-masing negara.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama

Gita Lestari


Bagikan Ini!