Kementerian ESDM Kirim Emergency Response Team ke Lokasi Bencana Tsunami Banten

Minggu, 23 Desember 2018 - Dibaca 838 kali

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera menerjunkan Emergency Response Team (ERT) ke wilayah terdampak bencana tsunami yang melanda Kabupaten Pandeglang, Serang, Provinsi Banten dan Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

"Sehubungan dengan terjadinya bencana tsunami di Kabupaten Pandeglang, Serang dan Lampung Selatan, Kementerian ESDM mengirimkan ERT dari perusahaan pertambangan sektor ESDM yang kegiatannya berada di dekat lokasi terdampak," ungkap Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi, Minggu (23/12).

Saat ini tim yang berada di lokasi bencana tengah melihat dampak yang ditimbulkan tsunami tersebut agar dapat menginformasikan kepada ERT Sektor ESDM lainnya bantuan apa yang menjadi prioritas untuk mempercepat pemulihan pascabencana tsunami.

"Tim ESDM Siaga Bencana saat ini melakukan asessment terhadap dampak yang terjadi, sehingga dapat mengetahui bantuan apa yang menjadi prioritas didatangkan ke lokasi bencana. Tim juga berkoordinasi langsung dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Jika ada perkembangan lebih lanjut akan kami sampaikan," jelas Agung.

Sebagaimana rilis yang disampaikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), peristiwa tsunami yang terjadi di Pantai Barat Banten terjadi pada hari Sabtu (22/12) pukul 21.27 WIB dan tidak dipicu oleh gempa bumi.

Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati pantai hingga ditemukan penyebab pasti tsunami tersebut. BMKG bersama Badan Geologi, Kementerian ESDM masih terus akan mengkaji penyebab tsunami tersebut.

Sementara itu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian ESDM mengungkapkan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau pada tanggal 22 Desember sama seperti hari-hari sebelumnya. Secara visual, teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300 - 1500 meter di atas puncak kawah. Secara kegempaan, terekam gempa tremor menerus dengan amplitudo overscale (58 mm).

Pada pukul 21.03 WIB terjadi letusan, tidak lama berselang ada info tsunami. Terkait apakah tsunami tersebut ada kaitannya dengan aktivitas letusan, PVMBG masih mendalami hal ini.

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga tanggal 23 Desember 2018, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tetap Level II (Waspada). Sehubungan dengan status Level II tersebut, direkomendasikan kepada masyarakat tidak diperbolehkan mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 2 km dari Kawah. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami serta senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.

Penulis: Arid Riza Abadi

Bagikan Ini!