Menuju NZE 2050–2060, Pemerintah Dorong Investasi Kelistrikan 100 GW dan Penguatan EBT

Selasa, 22 September 2026 - Dibaca 92 kali

TANGERANG - Kebutuhan energi yang terus berkembang mendorong pemerintah memperkuat fondasi kelistrikan nasional melalui pengembangan kapasitas pembangkit dan infrastruktur pendukung. Dalam agenda Electricity Connect 2026, pemerintah menegaskan rencana pengembangan pembangkit listrik hingga 100 gigawatt (GW) sebagai bagian dari upaya menjaga komitmen transisi energi dan mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada rentang 2050 hingga 2060.

Pengembangan sektor kelistrikan tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk memastikan ketersediaan energi nasional sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa Indonesia tetap menjalankan agenda transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) meskipun terdapat dinamika global terkait komitmen perubahan iklim.

Dalam pembukaan Electricity Connect 2026, Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah mendorong peningkatan porsi EBT hingga 70 persen dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program penambahan pembangkit listrik dengan kapasitas mencapai 100 GW.

"Indonesia tak akan bergeming dan tetap konsisten untuk memenuhi target net zero emission kita di 2050 sampai tahun 2060. Caranya bukan hanya tema, langsung dibuat program konkret. Di RUPTL kita dorong 70 persen energi baru terbarukan dan kita menambah 100 gigawatt," tegas Bahlil.

Untuk mendukung program tersebut, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai USD 70 hingga 73 miliar. Menteri Bahlil menekankan pentingnya kerja sama yang memberikan manfaat bagi seluruh pihak dengan tetap memperhatikan penggunaan komponen dalam negeri.

Dukungan terhadap rencana pengembangan kelistrikan nasional juga disampaikan oleh Penasehat Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) sekaligus Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo. Ia menegaskan kesiapan sektor ketenagalistrikan dalam menjalankan arahan dan navigasi dari Menteri ESDM.

Darmawan memaparkan bahwa pengembangan infrastruktur listrik nasional mencakup pembangunan kapasitas baru dalam skala besar melalui RUPTL serta pembangunan jaringan transmisi sepanjang 48.000 kilometer sirkuit.

"Jawabannya hanya satu, siap Bapak laksanakan. Epicentrum the new development of energy ada di Indonesia," ujar Darmawan.

Di sisi lain, pengembangan kelistrikan nasional masih membutuhkan penguatan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan investor. Kebutuhan investasi besar serta pembangunan infrastruktur pendukung menjadi bagian penting dalam memastikan rencana pengembangan energi dapat berjalan sesuai arah kebijakan.

Melalui penyelenggaraan Electricity Connect 2026, pemerintah mendorong terbentuknya ruang kerja sama antara berbagai pemangku kepentingan untuk mempercepat pengembangan sektor energi. Forum tersebut dihadiri ribuan delegasi, ratusan pembicara, serta peserta pameran dari dalam dan luar negeri.

Secara keseluruhan, rencana pengembangan 100 GW dan peningkatan porsi EBT dalam RUPTL menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam memperkuat sistem kelistrikan nasional. Penguatan kapasitas pembangkit dan jaringan transmisi diharapkan mendukung kebutuhan energi Indonesia sekaligus menjadi bagian dari perjalanan menuju target NZE 2050 hingga 2060.

Bagikan Ini!