Pantau Lebih dari 20 Gunung Api, Tim Posko ESDM Sukses Mitigasi Bencana Geologi

Selasa, 6 Januari 2026 - Dibaca 834 kali

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menutup rangkaian tugas Posko Nasional Sektor ESDM Nataru 2025/2026 pada Senin (5/1). Penutupan yang berlangsung di Gedung BPH Migas ini menandai berakhirnya masa siaga yang berjalan sejak pertengahan Desember 2025, dengan catatan kinerja tim yang meyakinkan dalam menjaga stabilitas pasokan energi di tengah tantangan geologi.

Inspektur Jenderal Kementerian ESDM Yudhiawan, mewakili Menteri ESDM, menyatakan bahwa kesiapsiagaan dan langkah mitigasi yang cepat merupakan kunci terjaganya pasokan energi nasional selama libur panjang. "Pelaksanaan upaya antisipasi bencana geologi sudah dimitigasi, baik itu gunung api, gerakan tanah, dan kemudian gempa bumi; semuanya termitigasi dengan baik dan berjalan lancar berkat kerja keras kita semua," tegas Yudhiawan.

Data teknis posko mencatat fokus utama pada aktivitas vulkanik. Tercatat ada satu gunung api berstatus Awas (Level IV), yakni Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, yang statusnya naik pada 1 Januari 2026. Selain itu, tim memantau dua gunung berstatus Siaga (Level III), yaitu Gunung Merapi dan Gunung Semeru serta 24 gunung lain yang berada pada status Waspada (Level II). Meski ada peningkatan aktivitas di beberapa titik, koordinasi cepat antara Badan Geologi dan pelaku usaha berhasil menjaga agar fasilitas-fasilitas vital tetap beroperasi.

Sektor kegeologian juga mencatat 82 kejadian gerakan tanah yang tersebar di 17 provinsi. Menurut Ketua Posko Nasional Sektor ESDM, Erika Retnowati, tindakan antisipatif dan pemetaan daerah rawan membantu mencegah gangguan pada jalur distribusi energi. "Alhamdulillah seluruh aktivitas gempa bumi, gunung api, dan gerakan tanah tidak berdampak terhadap pasokan maupun kelancaran penyaluran energi baik BBM, Gas, maupun listrik," ujar Erika, menegaskan keberhasilan tim di lapangan.

Dalam hal seismik, posko melaporkan 10 kejadian gempa berkekuatan di atas magnitudo 5.0, serta 46 kejadian gempa yang dirasakan masyarakat (magnitude <5.0) selama periode 15 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026. Peristiwa paling menonjol adalah gempa merusak di sekitar Agam, Sumatera Barat, pada 28 Desember 2025. Berkat respons cepat dan koordinasi antarlembaga, tidak terjadi tsunami dan kerusakan infrastruktur energi dapat diminimalkan.

Yudhiawan memberikan apresiasi khusus terhadap kecepatan pengumpulan data dan koordinasi tim geologi di lapangan.

"Pelaksanaan upaya antisipasi bencana geologi sudah dimitigasi, yaitu baik itu gunung api, gerakan tanah, dan kemudian gempa bumi, termitigasi dengan baik dan semuanya berjalan berkat kerja keras kita semua," jelasnya.

Keberhasilan mitigasi juga tidak lepas dari sinergi lintas sektoral. Kolaborasi erat dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, dan Polri membuat informasi kebencanaan cepat sampai ke operator energi di lapangan, sehingga langkah antisipatif dapat dilakukan dalam hitungan detik. Yudhiawan menggambarkan sinergi ini seperti kekuatan sapu lidi: bersama-sama lebih kuat dalam menghadapi tantangan.

Kementerian ESDM menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan standar mitigasi dan kesiapsiagaan geologi demi menjamin kenyamanan masyarakat dan kelancaran aktivitas dunia usaha. (RD)

Bagikan Ini!