Masa Tugas Berakhir, Tim Reformasi Migas Serahkan 12 Rekomendasi

Kamis, 14 Mei 2015 - Dibaca 1022 kali

JAKARTA - Setelah 6 bulan menjalankan tugas, Tim Reformasi Migas yang dipimpin Faisal Basri, menyelesaikan masa kerjanya, Rabu (13/5).Menandai berakhirnya masa tugas ini, Tim Reformasi Migas memberikan 12 rekomendasi.

Menteri ESDM Sudirman Said di Kementerian ESDM, Rabu (13/5), dalam jumpa pers akhir masa tugas Tim Reformasi Migas mengatakan, secara umum tim ini telah menunjukkan hasil kerja yang maksimal. Keanggotaannya yang berasal dari berbagai kalangan, dinilai dapat memberikan masukan dari berbagai sudut pandang. Sebagian besar rekomendasi tim ini juga telah dilaksanakan Pemerintah, antara lain rekomendasi untuk membubarkan Petral.

Bersamaan dengan berakhirnya masa tugas, Tim Reformasi Migas menyerahkan 12 rekomendasi dalam laporan yang berjudul "Memperkokoh Kelembagaan Sektor Migas Indonesia". Rekomendasi yang diberikan adalah:

1.Rekomendasi Umum

Menghadirkan sistem yang transparan dan akuntabel dalam tata niaga minyak dan gas untuk meningkatkan efisiensi sektor midstream dan downstream, khususnya dalam pelaksanaan impor, dan umumnya dalam pengadaan migas.
Lebih memacu perusahaan minyak nasional melakukan eksplorasi di dalam negeri dengan dukungan penuh pemerintah lewat penyediaan Informasi dan data yang lebih akurat beserta seperangkat insentif yang memadai.

Membuka peluang seluas-luasnya bagi pemilikan equity atau blok migas di luar negeri, baik melalui mekanisme kepemilikan silang maupun aliansi strategis dengan pihak lain untuk menjamin pasokan minyak dan gas dalam negeri untuk jangka menengah dan panjang karena lapangan di dalam negeri tidak lagi mencukupi kebutuhan domestik.

Mendorong kemandirian energi dengan secara sadar mengembangkan energi baru dan terbarukan, prioritas pembangunan pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi, penggunaan biofuel sebagai bahan bakar alat transportasi, dan pengembangan energi surya.

2. Pengelolaan Penerimaan Negara Dari Sektor Minyakdan Gas Bumi

  • Persentase tertentu dari penerimaan negara dari sektor minyak dan gas bumi (di luarpajak penghasilan perusahaan minyak) disisihkan dan ditabung untuk:
  • Kepentingan generasi yang akan datang
  • Membiayai pengembangan energi baru dan terbarukan
  • Pembiayaan kebijakan safety net untuk mengurangi dampak fluktuasi harga minyak bagi konsumen di dalam negeri
  • Riset Enhanced Oil Recovery
  • Survei umum dan seismik.
3. Format tata kelola sektor hulu Migas

.Pertamina tidak dibebani fungsi pengaturan danpengendalian sektor hulu migas. Hal ini dimaksudkan agar PERTAMINA terhindar dari risiko kontrak migas dan dapat berkonsentrasi pada usaha komersial sehingga berkembang menjadi perusahaan yang berdaya saing tinggi dan berskala global.

.Pemerintah membentuk BUMN khusus yang dibiayai melalui imbalan pengelolaan migas yang diperoleh dari penerimaan kegiatan hulu migas dengan tugas menjalankan fungsi pengaturan dan pengendalian sektor hulu migas, dengan kewenangan melakukan negosiasi dan menandatangani kontrak, menerbitkan peraturan berkaitan dengan pengelolaan dan pengusahaan sumber daya migas, mengawasi dan melakukan audit kepatuhan atas aturan tersebut, melakukan survei untuk mengetahui dengan lebih akurat sumber daya migas nasional, memberikan masukan kepada penentu kebijakan terkait sektor hulu dan mendorong persaingan sehat antar pelaku usaha di sektor hulu migas.

4. Sistem Fiskal Sektor hulu Minyak dan Gas Bumi
  • Membuka peluang penerapan sistem fiskal selain yang berlaku saat ini dan model kontrak kerja sama yang sederhana, transparan, fleksibel dan kompetitif. Untuk wilayah kerja yang memiliki cadangan besar dengan tingkat kesulitan rendah dapat digunakan service contract.
  • Tanpa mengurangi penghormatan terhadap kontrak yang sudah disepakati, peraturan mengenai cost recovery perlu ditata kembali, misalnya penerapan standar biaya yang berlaku pada usaha migas. Pemerintah atau badan yang ditunjuk menyusun basis data komponen biaya disertai standar harga masing-masing komponen tersebut.
5. Perpanjangan Kontrak Migas
  • Sesuai dengan amanat perundangan (PP No.35/2004), Pertamina perlu didorong untuk mengambil alih pengusahaan Wilayah Kerja Migas yang habis masa kontraknya dengan memerhatikan kesinambungan produksi di wilayah yang bersangkutan. Hak pengusahaan oleh Pertamina pada wilayah kerja migas yang dialihkan tersebut dapat ditukar dengan hak eksplorasi dan eksploitasi Migas di negara lain.
  • Participating Interest yang menjadi hak Daerah dipastikan pemanfaatan sepenuhnya oleh Daerah (BUMD yang sepenuhnya dimiliki Daerah). Untuk itu, perlu disusun aturan perundangan yang mengatur partisipasi BUMD pada pengusahaan sektor hulu migas, termasuk di dalamnya kewajiban kerja sama antara BUMD dengan Pertamina, tanpa membebani BUMD dengan pengeluaran biaya investasi dan risiko kerugian usaha.

6. Perizinan dan Investasi


  • .Evaluasi atas perizinan yang bersifat ganda dan tidak relevan, termasuk perizinan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah, dan penyederhanaan proses pengurusan izin melalui sistem "Pelayanan Satu Pintu" yang laksanakan dan dikoordinasikan oleh BKPM atau lembaga/BUMN khusus yang melaksanakan fungsi pengaturan dan pengendalian sektor hulu migas.
  • Menghapus aturan-aturan yang menyebabkan praktek ekonomi biaya tinggi di sektor migas, di antaranya:
pengenaan pajak 3 persen atas penjualan minyak mentah oleh pedagang (trader) di pasar dalam negeri.
pemberlakuan azas cabotage atas kapal yang melayani usaha hulu migas dan mempermudah perizinan penggunaannya.
  • Definisi "kilang nasional" dipertegas sehingga mencakup seluruh kilang minyak yang ada di dalam negeri. Keberpihakan dalam pemanfaatan minyak mentah milik negara diberikan kepada seluruh kilang minyak yang di dalam negeri;
  • Insentif bagi pembangunan kilang minyak swasta di dalam negeri melalui penetapan harga minyak mentah sesuai dengan titik serahnya. Dengan memperhitungkan biaya transportasi, harga minyak mentah di "mulut sumur" seyogyanya lebih murahdari harga di titik serah ekspor.

7. Infrastruktur

Penyediaan anggaran pemerintah dan insentif bagi usaha nasional untuk pembangunan infrastruktur distribusi dan penyimpanan gas, termasuk fasilitas depot dan pembiayaan cadangan BBM nasional.

Revamping atau pembaruan kilang lama dan pembangunan kilang baru hendaknya tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan BBM di DN tetapi juga meningkatkan kapasitas dan struktur industri nasional. Stand alone refinery hendaknya dihindari.

Kebijakan "Open Access" penggunaan depot dan Kilang BBM, alat pengangkut dan penyaluran minyak dan gas bumi diterapkan secara efektif dan konsisten.

8. Hak Daerah

Untuk kepastian penerimaan Dana Bagi Hasil Migas dan mengurangi kesalah-pahaman dan ketidak-puasan daerah atas penerimaan dana tersebut, hak daerah diambil dari FTP (first trance petroleum) dan perhitungan PKPD (Perimbangan Keuangan Pusat Daerah) dilakukan secara lebih transparan.

Pengaturan lebih tegas mengenai pemanfaatan potensi Daerah untuk menunjang produksi migas dan kewajiban pemerintah daerah untuk memfasilitasi kelancaran usaha migas, termasuk tidak menggunakan perizinan sebagai sumber pendapatan daerah, dan insentif bagi K3S untuk meningkatkan penggunaan sumber domestik dalam pengadaan barang dan jasa dan peningkatan kapasitas dan kemampuan lokal. Pengaturan lebih tegas mengenai pemanfaatan potensi Daerah untuk menunjang wirausaha lokal, peluang pelatihan, pengembangan keterampilan, serta dukungan finansial yang mungkin tersedia agar mereka dapat berperan serta di setiap mata rantai nilai industri migas

9. Keberpihakan kepada Industri dan Usaha Nasional

Pertamina dan perusahaan nasional diberi kesempatan lebih besar mendapatkan hak eksplorasi dan eksploitasi wilayah kerja dengan tingkat kesulitan rendah. Kontraktor Minyak Asing diwajibkan menyertakan Pertamina dan/atau perusahaan nasional dalam eksplorasi dan eksploitasi Wilayah Kerja dengan tingkat kesulitan tinggi.

10. Tata niaga dan pengadaan minyak mentah dan BBM

. Menghentikan impor RON88 dan Gasoil 0,35 persen sulfur, dan menggantinya masing-masing dengan impor Mogas92 dan Gasoil 0,25 persen sulfur. Produksi minyak solar oleh kilang di dalam negeri ditingkatkan kualitasnya sehingga setara dengan Gasoil 0,25 persen sulfurdan mengalihkan produksi kilang domestik dari bensin RON88 menjadi bensin RON92.

. Menata ulang seluruh proses dan kewenangan penjualan minyak mentah dan pengadaan minyak mentah dan BBM:

  • Tender penjualan dan pengadaan impor minyak mentah dan BBM dilakukan ISC (integrated supply chain) Pertamina, dengan memastikan mekanisme pengadaan yang transparan dan akuntabel.
  • Memperkokoh kedudukan ISC dan mengganti personalia/managemen lama untuk memutus matarantai mafia migas.
  • Melakukan audit investigasi yang dilanjutkan dengan audit forensik, khususnya atas pengadaan oleh PES (Pertimina Energy Services) selama kurun waktu Januari 2014 hingga Juni 2015. Hasil audit forensik itu bisa dijadikan sebagai pintu masuk membongkar potensi pidana, khususnya membongkar sepak terjang mafia migas

11. Penentuan harga BBM di dalam negeri

Harga eceran BBM ditetapkan berdasarkan rumusan pasti dan stabil, terbuka bagi masyarakat termasuk rumusan penentuan besaran "alpha"; disertai kebijakan safety net berupa subsidi tetap pada saat harga tinggi dan penetapan harga lebih tinggi dari harga keekonomian pada saat harga rendah. Mekanisme demikian masih dirasakan perlu setidaknya untuk jangka menengah.
Perhitungan subsidi didasarkan pada volume BBM yang disalurkan pada titik serah akhir SPBU dan depot BBM untuk Kereta Api.

12. Lain-lain

Pembagian peran dan tanggung jawab antar lembaga pemerintah dan antara pemerintah pusat dan daerah ditetapkan dengan jelas dan transparan, sehingga pelaksanaannya dapat diawasi dan dievaluasi, disertai koordinasi yang efektif danpeningkatan kapasitas dan kompetensi pejabat publik yang terkait dengan pelaksanaan peran dan tanggung jawab tersebut.

Pemanfaatan hasil kerja unit-unit pada Kementerian ESDM (Pusat Survey Geologi, Lemigas, dan lain-lain) perlu dimaksimalkan sehingga mendukung penyiapan data geologi Wilyah Kerja / Lapangan Migas yang akan dilelang dan perencanaan pembangunan infrastruktur migas nasional. (TW)

Bagikan Ini!