Kejar NZE, Pemerintah Terus Mendorong Pemanfaatan EBT di Indonesia

Pemerintah mengapresiasi Institute for Essentials Services Reform (IESR) sebagai think tank acara Solar Summit 2022, dan tentunya para deklarator GigaWatt yang memiliki komitmen tinggi terhadap pemanfaatan energi surya di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial dalam acara Indonesia Solar Summit 2022 yang dilaksanakan secara hybrid, Selasa (19/04/2022).

"Saya mengapresiasi IESR yang telah bekerja sama dengan Kementerian ESDM dalam menyelenggarakan Indonesia Solar Summit 2022," ujar Ego.

Pemerintah Indonesia memiliki komitmen untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca sebesar 29% dengan kemampuan sendiri atau 41% dengan dukungan internasional, pada tahun 2030. Dan untuk menjawab isu global yang terus berkembang, pada COP26 tahun lalu, Indonesia juga telah berkomitmen untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.

Ego mengatakan upaya untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca adalah melalui transisi energi dengan pemanfaatan energi baru dan terbarukan yang ditargetkan sebesar 23% pada tahun 2025. Waktu untuk pencapaian target ini semakin dekat, sedangkan kontribusi EBT dalam bauran energi primer nasional pada tahun 2021 baru mencapai 11,7%.

Ia mengatakan diperlukan strategi untuk mempercepat capaian target EBT, antara lain memprioritaskan pengembangan Energi Surya dengan pertimbangan besarnya potensi energi surya yang dimiliki oleh Indonesia yaitu lebih dari 3.200 GW atau 89% dari total potensi energi terbarukan.

Salah satu upaya yang telah dilaksanakan Pemerintah adalah dengan mengesahkan Green RUPTL 2021 - 2030 dimana porsi EBT akan mencapai 20,9 GW pada tahun 2030, dengan total penambahan kapasitas Solar PV mencapai 4,68 GW.

"Selain itu, pada roadmap transisi energi Indonesia untuk mencapai NZE pada tahun 2060, energi surya akan berperan penting dalam penyediaan listrik nasional, dimana dari 587 GW kapasitas pembangkit EBT, sebesar 361 GW atau lebih dari 60% akan berasal dari energi surya," ungkap Ego.

Saat ini, Pemerintah memiliki 3 program besar energi surya, yaitu PLTS Atap dengan target 3,61 GW pada tahun 2025 dan PLTS Ground Mounted skala besar serta PLTS terapung di 271 lokasi dengan potensi sekitar 27 GW. Indonesia juga memiliki peluang yang besar untuk melakukan ekspor listrik yang berasal dari energi surya, ke negara anggota ASEAN, seperti Singapura.

Untuk mengimplementasikan program-program ini, membutuhkan kontribusi dari banyak pihak, tidak hanya Pemerintah, pemegang wilayah usaha, maupun pengembang energi terbarukan, tetapi juga para pengguna energi, seperti sektor komersial dan industri.

"PLTS Atap merupakan salah satu quick wins percepatan pemanfaatan energi surya melalui kontribusi langsung dari para pengguna energi, khususnya bagi industri untuk memenuhi tuntutan pasar yang semakin kuat terhadap produk hijau (green product)," kata Ego.

Dukungan dari manufaktur lokal juga sangat diperlukan untuk memenuhi TKDN dan memberikan manfaat yang besar untuk dalam negeri terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja. Disamping itu aspek kemudahan akses pembiayaan murah, insentif, dan fasilitas pembiayaan lainnya sangat penting untuk memberikan kelayakan finansial dan meningkatkan investasi energi terbarukan seperti PLTS.

"Saya berharap acara Indonesia Solar Summit 2022 dapat membuka pasar energi surya di Indonesia, dan dapat menjadi batu loncatan bagi Indonesia untuk mempercepat pemanfaatan PLTS dalam rangka mencapai target bauran EBT dan Net Zero Emission," tutup Ego. (AT)