Laporan dari ETWG 1: Masa Depan Energi di Tangan Generasi Muda

Proses transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) hingga tahun 2060 membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Dukungan dari generasi muda diharapkan bisa melanjutkan cita-cita besar dalam mewujudkan target NZE. Generasi muda diminta untuk lebih kreatif dan inovatif dalam berkontribusi dalam pengembangan teknologi di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT). Hal tersebut disampaikan Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam pembukaan Energy Transitions G20 Youth Forum yang merupakan rangkaian acara Energy Transitions Working Group (ETWG) di Yogyakarta, Jumat (25/3/2022).

"Negara kita ini kaya, sumber daya alamnya luar biasa. Kita punya energi fosil, punya sumber daya energi baru terbarukan, yang kita belum punya itu teknologinya. Jadi memang generasi muda ini harus bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif terkait dengan inovasi-inovasi, sehingga kedepaannya bisa memberikan kontribusi yang lebih besar," ujar Arifin.

Disampaikan Arifin bahwa saat ini dunia sangat memberi perhatian pada perubahan iklim. Ini merupakan kesempatan bagi generasi muda untuk bisa berpartisipasi dalam melakukan perubahan lingkungan dan mendukung program-program menuju energi bersih terutama untuk Indonesia.

Dalam diskusi Energy Transitions G20 Youth Forum tersebut, EVP Technology and Engineering PT.PLN (Persero) Zainal Arifin menyampaikan bahwa pada saat ini tantangan energi di Indonesia adalah transisi energi yang selain mengharuskan energi yang lebih bersih juga bagaimana menjadikan pengelolaan energi menjadi lebih smart. Menurutnya yang bisa mewujudkan hal tersebut adalah generasi muda saat ini.

"Kita punya PR bagaimana energi kita selain harus lebih green juga harus lebih smart. Kita tidak bisa menggunakan cara-cara lama untuk menyelesaikan masalah baru, kita perlu breaktrough dan perlu innovation,"ungkap Zainal.

Dalam kesempatan yang sama EVP Research and Technology Inovation PT. Pertamina Oki Muraza menyampaikan bahwa saat ini yang menjadi fokus adalah bagaimana kita sebagai negara bisa bertahan dalam perubahan zaman dan transisi energi ini. Menurutnya perlu dukungan generasi muda dalam pengembangan ide dan inovasi mewujudkan hal tersebut.

"Mimpi kita itu besar sekali, di 2050 kita ingin 31% atau sepertiga dari energi itu renewables. Pertamina memiliki beberapa kolaborasi bersama komunitas generasi muda, adik-adik bisa menghubungi Pertamina Foundation apabila ada ide-ide yang ingin di execute, dan juga kami bisa bisa membantu apabila ada yg memiliki ide untuk dikembangakn menjadi bisnis start-up," ujar Oki.

Menteri Arifin lebih lanjut menjelaskan agar generasi muda bisa mengidentifikasi sumber-sumber energi bersih yang ada. Kemudian ini akan dijadikan dasar data untuk bisa membangun infrastruktur kelistrikan dan bisa memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat.

"Kita himpun semangat untuk bisa melakukan hal-hal yang lebih besar, nyata, real yang memang bisa memberikan kontribusi maksimal untuk masyarakat. Sumber daya kita masih besar, masih menunggu kalian. Bagaimana kita bisa mengoptimalkan untuk memberikan dampak "snowballing", makin lama makin besar manfaatnya untuk bangsa kita. Sekali lagi semangat!" ujar Arifin.

Tentang Energy Transitions G20 Youth Forum

Energy Transitions G20 Youth Forum merupakan salah satu ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan aspirasi dalam mendorong transisi energi global. Kegiatan ini menghadirkan narasumber praktisi sektor energi serta perwakilan generasi muda Indonesia yang berkontribusi aktif dalam pengembangan energi bersih di tanah air.

Dalam acara ini dilakukan Soft Launching Energy Transition Innovation Challenge yaitu kompetisi bagi generasi muda dibawah 25 tahun untuk unjuk ide dan inovasi pengembangan energi bersih.

Selain itu dalam acara ini terdapat Dukungan Program Inovasi Surya Power Solusi Energy (SuperSUN) PLN yang yang mengajak mahasiswa untuk terlibat langsung dalam melistriki desa terluar di Papua Barat dengan Micro-PLTS dan Battery Storage. Micro-PLTS tersebut dilengkapi online real time monitoring sehingga tidak membutuhkan operator khusus dan dapat diopersikan hybrid dari sumber energi terbarukan. Biaya listrik dari inovasi SuperSUN diklaim hanya Rp2000,- per kWh atau lebih hemat 25 kali lipat dibanding genset.

Sebagai informasi, pilot project SuperSUN ini sudah meilistriki Kampung Yarweser, Raja Ampat sehingga dapat merasakan listrik 24 jam. Selanjutnya, SuperSUN akan diemplementasikan lebih dari 30 unit dengan melibatkan generasi muda.

Dalam acara yang dihadiri generasi muda pegiat energi secara fisik dan daring, terdapat pula Dukungan Program Desa Energi Berdikari Pertamina yang mengajak generasi muda yang telah di edukasi melalui Kampus Merdeka-Gerilya, untuk ikut membangun desa dan pemberdayaan masyarakat yang memiliki keterbatan akses energi. Desa berdikari Pertamina bersama Pemerintah dan Society Of Renewable Energy akan membangun PLTS di berbagai lokasi, berbasis Community Involvement Development yang memberikan dampak ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat.

Agenda terakhir, dilakukan deklarasi dukungan Program Desa Energi Berdikari Pertamina feat. GO-Gerilya yang merupakan kontribusi generasi muda Kampus Merdeka-Gerilya untuk membangun PLTS di tanah air. (U)