Penerapan Smart Grid Dukung Peningkatan Rasio Elektrifikasi di Daerah 3T

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus berupaya memperluas akses penyediaan listrik ke masyarakat khususnya di daerah 3T (Terdepan, Tertinggal, Terluar). Salah satu upaya untuk mempercepat elektrifikasi adalah dengan menerapkan teknologi Smart Grid. Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan hal tersebut dalam webinar Implementasi Smart Grid, Jumat (26/02/2021). Ia menyebut topografi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau membuat penyediaan listrik menjadi lebih menantang di daerah 3T.

"Teknologi Smart Grid tidak terbatas hanya pada Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saja, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk otomasi sistem kelistrikan yang efisien di daerah 3T dengan memanfaatkan energi terbarukan setempat melalui konsep Smart Micro Grid," ujar Arifin.

Pada akhir 2020, Rasio Elektrifikasi mencapai 99,20%. Arifin mengatakan capaian ini jauh meningkat dibanding RE pada 2000 sebesar 53%. Di antara kebijakan yang Pemerintah sudah lakukan di antaranya dengan perluasan jaringan di wilayah yang sudah on-grid untuk peningkatan keandalan dan efisiensi. Sementara untuk daerah 3T, Pemerintah melakukan pendekatan off-grid untuk memperluas akses tenaga listrik di antaranya dengan Solar PV, tabung listrik (Talis), dan lainnya.

Arifin menekankan pentingnya peran Pemerintah Daerah dalam pengembangan Smart Grid untuk meningkatkan RE di daerah masing-masing. Arifin menyampaikan Pemerintah telah mengundangkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang ESDM sebagai turunan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja.


"Salah satu amanat di PP tersebut adalah Pemerintah Daerah menyediakan anggaran/dana untuk masyarakat kurang mampu dan dapat menggunakan dana tersebut untuk membangun teknologi Smart Grid untuk mempercepat capaian rasio elektrifikasi di wilayah masing-masing," Arifin menjelaskan.


Ia menyampaikan teknologi Smart Grid juga meningkatkan partisipasi konsumen listrik dalam sistem ketenagalistrikan dengan pemasangan Smart Meter yang menggunakan konsep komunikasi dua arah.

"Konsumen akan berubah menjadi prosumer atau konsumen yang bisa memproduksi listrik mereka sendiri, baik menggunakan Solar Home System atau Mikrohidro," kata Arifin.

Ia menyebut PT PLN (Persero) telah berhasil melakukan modernisasi infrastruktur ketenagalistrikan melalui digitalisasi dengan penerapan Advanced Metering Infrastructure (AMI) di Jakarta dan penerapan Digital Substation di proyek Sepatan II. Pengembangan Smart Grid juga telah dilakukan melalui Remote Engineering, Monitoring, Diagnostic & Optimization Center (REMDOC) dan Reliability Efficiency Optimization Center (REOC).

Director Energy Market and Security International Energy Agency (IEA) Keisuke Sadamori mengapresiasi penyelenggaraan webinar ini. Ia melihat webinar ini sebagai langkah penting dalam kolaborasi dengan Indonesia yang semakin meningkat.

"Tidak ada solusi tunggal untuk bisa menyediakan akses terhadap listrik yang bersih, aman, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia. Butuh kerja sama antara pemerintah, BUMN, dan swasta untuk mengerahkan berbagai solusi yang dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi sistem dalam skala besar juga meningkatkan kualitas listrik di skala kecil atau sistem di daerah terpencil," ujar Keisuke. Menurutnya, Smart Grid berperan penting untuk mencapai kedua tujuan tersebut.

Webinar ini merupakan webinar pemuncak dalam rangkaian webinar Smart Grid yang dimulai pada 9 Februari 2021. Acara ini dihadiri oleh pemangku kepentingan dari kementerian/lembaga, pemerintah daerah, badan usaha, asosiasi profesional, akademisi, organisasi internasional termasuk IEA, Asian Development Bank (ADB), Danish Energy Agency, dan United States Agency for International Development (USAID). (AMH)