Selamatkan Air Tanah Jakarta: Sekarang Saatnya!

Minggu, 15 September 2019 - Dibaca 1029 kali

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS

NOMOR: 565.Pers/04/SJI/2019

Tanggal: 15 September 2019

Selamatkan Air Tanah Jakarta: Sekarang Saatnya!

"Air tanah siapa yang punya? air tanah siapa yang punya? yang punya kita semua. Makanya peduli dong karena itu punya kita semua!"

Senandung tersebut dinyanyikan Ully Hary Rusady bersama dengan masyarakat Jakarta yang melintas di depan Gedung Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pagi ini (15/9) saat Car Free Day pada acara minitalkshow "Selamatkan Air Tanah Jakarta: Sekarang Atau Tunggu Jakarta Tenggelam?" dengab narasumber Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Kementerian ESDM, Andiani.

Disebutkan Andiani, kondisi air tanah Jakarta telah mengalami penurunan permukaan. Penurunan muka air tanah ini akan berkontribusi terhadap penurunan tanah Jakarta dikarenakan pemanfaatan air tanah masih dominan dimanfaatkan sebagai sumber air gedung-gedung di Jakarta.

Air tanah berada di pori-pori batuan yang semulanya terisi air setelah di ekstrasi menjadi kosong ketika air dipompa naik ke atas permukaan. Antar butiran di bawah tanah terjadi pemadatan, sehingga akhirnya tanah bisa ambles dan mengalami kerusakan.

Penurunan tanah di Jakarta terjadi dengan kecepatan bervariasi. Secara umum, sisi utara lebih cepat daripada sisi selatan. Di sisi utara (daerah Ancol), muka tanah turun hingga sekitar 7 cm per tahun didasarkan pada data peta zona kerusakan air tanah pada Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta pada tahun 2013 dan pada tahun 2018 hasil kegiatan survei dan penelitian Balai Konservasi Air Tanah- Badan Geologi Kementerian ESDM.

Dalam interaksi dengan masyarakat pagi ini, Eni warga Rawa Buaya Jakarta Utara menanyakan "Di Rawa Buaya, musim hujan kebanjiran, musim kemarau kekeringan, bagaimana mengelola air itu agar banjir tidak berlebih dan kemarau tidak kekurangan air?

c-IMG-20190915-WA0012.jpg

Menjawab pertanyaan tersebut, Andiani menjawab diperlukannya pengelolaan di daerah imbuhan dan daerah lepasan air. Ia menjelaskan daerah imbuhan air Jakarta adalah Selatan Jakarta dan Depok, disana perlu dilakukan konservasi agar resapan air terjadi misalnya dengan membuat resapan air, membuat regulasi/ peraturan terkait building ratio yang perlu ketat dilaksanakan.

Sedangkan di daerah lepasan air, daerah pemanfaatan/pengambilan air perlu dikendalikan. Maksudnya, pengambilan air tanah perlu mendapat ijin, dimana ijin tersebut harus berdasarkan rekomendasi teknis. Dalam rekomendasi teknis pengambilan air tanah yang diambil disesuaikan dengan potensi yang ada, sehingga ijinnya disesuaikan dengan debit yang diperbolehkan diambil dan kedalaman sumur.

Kedepannya Badan Geologi diharapkan memberikan rekomendasi terhadap aspek perencanaan tata ruang agar perizinan terpadu dan asas pemanfaatan air tanah yang berbasis cekungan air tanah dapat menjadi poin penting dalam pelaksanan konservasi air tanah selain koordinasi sinergitas antar lembaga pemerintah khususnya perizinan pengambilan air tanah.

Andiani juga mengingatkan kepada masyarakat Jakarta, pengurangan penggunaan air tanah yang terjadi dapat menaikkan kembali muka air tanah, meski butuh proses waktu dan tidak sampai ke posisi semula.

Hal ini telah dibuktikan dengan pengurangan terhadap penggunaan air tanah di kota Tokyo dan Bangkok. "Bukan tidak mungkin akan terjadi juga di Jakarta jika kita mampu berusaha untuk mengurangi penggunaan air tanah. Selain itu perlu juga dibangun sumur-sumur resapan dan sumur injeksi untuk menambah volume air tanah," tandas Andiani.

Ully Hary Rusady sebagai salah satu anggota Dewan Sumber Daya Air sangat mendukung kampanye kali ini. "Alangkah baiknya Kementerian ESDM terus melanjutkan gerakan peduli air tanah ini, karena masyarakat perlu tahu air tanah itu apa? Saling menginformasikan bahwa air tanah itu penting sebagai sumber kehidupan, bahwa jika punahnya mata air itu tidak kelihatan seperti kebakaran hutan yang terlihat." Oleh karena itu, lanjutnya, mari kita lestarikan air tanah dengan salah satu contoh menjaga mata air. Untuk generasi milenial juga diimbau agar mulai peduli lingkungan dengan jangan lupa mematikan keran saat tidak dipakai.

Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, direncanakan mengadakan kegiatan lanjutan ini berupa Talkshow Air Tanah dengan tema: "Selamatkan Air Tanah Jakarta: Sekarang Atau Tunggu Jakarta Tenggelam?" yang akan dilaksanakan pada 25 September mendatang di kantor Kementerian ESDM yang juga akan mengundangi stakeholder terkait dan juga para penguna khususnya pengelola gedung bertingkat di Jakarta yang banyak mengunakan air tanah. (BW)

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama

Agung Pribadi (08112213555)

Bagikan Ini!