Bukan Sekadar Menyalakan Lampu, ESDM Ajak Mahasiswa UGM Menyalakan Ide untuk Energi Masa Depan
YOGYAKARTA - Menyalakan lampu bukan hanya soal menghadirkan listrik, tetapi juga membuka ruang bagi aktivitas, kesempatan, dan gagasan baru. Dari rumah, tempat usaha, hingga ruang belajar, energi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pesan itulah yang dibawa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat mengajak mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melihat peran mereka dalam menyiapkan masa depan ketenagalistrikan Indonesia.
Melalui kegiatan ESDM Goes To Campus Subsektor Ketenagalistrikan bertajuk "Power Up the Future: Mahasiswa untuk Masa Depan Ketenagalistrikan Indonesia" di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kamis (17/9/2026), Kementerian ESDM mengajak mahasiswa untuk terlibat dalam perjalanan pembangunan sektor ketenagalistrikan Indonesia.
Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komunikasi Publik dan Media, Dwi Anggia, menyampaikan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam menghadirkan gagasan dan inovasi untuk mendukung sistem ketenagalistrikan yang semakin andal, bersih, dan terjangkau.
"Saya yakin UGM punya peran strategis di sini, dalam perjalanan Indonesia menciptakan listrik yang lebih andal, listrik yang lebih bersih, dan yang lebih terjangkau untuk Indonesia di masa yang akan datang," ujar Anggia.
Menurut Dwi Anggia, listrik memiliki dampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Ketersediaan listrik dapat memperpanjang waktu operasional usaha masyarakat di desa, mendukung aktivitas belajar anak-anak pada malam hari, hingga membantu menjaga hasil tangkapan nelayan dan hasil pertanian agar dapat disimpan lebih lama.
Karena itu, mahasiswa dinilai memiliki ruang kontribusi yang luas, tidak hanya dalam pengembangan teknologi, tetapi juga dalam memberikan gagasan untuk mendukung arah kebijakan ketenagalistrikan Indonesia.
"Mari kita nyalakan lampu-lampu di Indonesia. Tidak hanya menyalakan listrik, tapi menyalakan anak muda yang berani memberikan gagasan, berani memberikan ide," ujarnya.
Perkembangan sektor energi juga membutuhkan kesiapan sumber daya manusia dari berbagai latar belakang keilmuan. Dekan Fakultas Teknik UGM, Selo, menilai pembangunan energi ke depan tidak hanya membutuhkan tenaga teknis, tetapi juga berbagai bidang pendukung lainnya.
"Kebutuhan tenaga kerja itu bukan hanya untuk orang teknik elektro. Kita bicara tentang pembangunan pembangkit, itu membutuhkan orang marketing, membutuhkan orang akuntansi, dan semua bidang yang dibutuhkan," ujar Selo.
Menurutnya, kebutuhan tenaga kerja di sektor energi akan terbuka seiring dengan pembangunan infrastruktur kelistrikan. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan sektor energi memiliki keterkaitan dengan berbagai disiplin ilmu dan membuka peluang bagi generasi muda untuk mengambil peran.
Peluang tersebut terlihat dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 yang telah disahkan oleh Menteri ESDM. Dalam periode 10 tahun tersebut, pembangunan direncanakan mencakup total pembangkit sebesar 69,5 GW, jaringan transmisi sebesar 47.758 kms, dan gardu induk sebesar 107.950 MVA. Dari proyek tersebut diproyeksikan dapat menyerap 1,7 juta lapangan kerja hingga tahun 2034.
ESDM Goes to Campus Subsektor Ketenagalistrikan dilaksanakan melalui kerja sama Kementerian ESDM dengan Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ). Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra pembangunan untuk meningkatkan pemahaman serta kompetensi generasi muda mengenai perkembangan sektor ketenagalistrikan.
Dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur listrik dalam satu dekade mendatang, keterlibatan mahasiswa menjadi salah satu bagian penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mendukung perkembangan sektor energi Indonesia.
Bagikan Ini!