Fokus Agenda Pembangunan Nasional, Menteri Arifin Tekankan Kemandirian Energi

Rabu, 4 Maret 2020 - Dibaca 515 kali

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS

NOMOR: 103.Pers/04/SJI/2020

Tanggal: 4 Maret 2020

Fokus Agenda Pembangunan Nasional, Menteri Arifin Tekankan Kemandirian Energi


Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menegaskan kebijakan sektor energi dan mineral di bawah kepimpinannya difokuskan pada agenda pembangunan nasional. Ia mengharapkan pembangunan energi akan mewujudkan kemandirian energi yang berkelanjutan dan berkeadilan.


Arifin menjelaskan semua program strategis tersebut dijalankan sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020 - 2024. "Ada tujuh agenda pembangunan yang kita lakukan mengacu pada visi misi Presiden Joko Widodo dan lima agenda pembangunan terkait sektor ESDM," kata Arifin saat menyampaikan Kebijakan dan Program Strategis Sektor ESDM di Stadium General di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Rabu (4/3).


Agenda pembangunan pertama, sambung Arifin, terkait tentang memperkuat ketahanan ekonomi. Adapun pada tahun 2024 ditargetkan peningkatan porsi EBT dalam bauran energi menjadi 19,5%, kapasitas pembangkit EBT 3,7 GW, pemanfaatan biofuel 17,4 juta kilo liter (KL), pembangunan smelter 52 unit, alokasi pemanfaatan gas domestik naik jadi 68%, produksi batubara 628 juta ton dan DMO batubara 187 juta ton, lifting migas 2.057 ribu BOEPD, terdiri dari minyak 743 ribu BOEPD dan gas 1.314 BOEPD.


Agenda selanjutnya mengurangi kesenjangan, melalui program BBM Satu Harga di 500 titik dan penambahan PLTS Rooftop sebesar 73 MW. Untuk agenda peningkatan Kualitas dan Daya Saing SDM, melalui pelatihan sektor industri 25.026 orang, pelatihan aparatur KESDM 7.302, pelatihan vokasi masyarakat 1.522 orang hingga sertifikasi kompetensi tenaga teknis 47.435 orang.


Sementara untuk agenda memperkuat Infrastruktur, melalui penambahan kapasitas pembangkit hingga 5,7 GW, rasio elektrifikasi 100%, konsumsi listrik per kapita 1.408 kWh/kapita, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum 1.558 unit, penambahan Jaringan Gas Kota sebesar 800 ribu Sambungan Rumah Tangga (SR) sehingga total kumulatif menjadi 4 juta SR, Panjang Pipa Transmisi dan Distribusi 17,3 ribu Kilo Meter, 6 pengembangan dan pembangunan kilang dan 500 unit sumur ekplorasi air tanah.


Yang terakhir terkait membangun lingkungan hidup, ketahanan bencana dan perubahan Iklim, melalui penurunan emisi GRK Sektor Energi hingga 142 juta ton CO2, luas lahan reklamasi tambang 7,1 ribu hektar, 12 petaa geologi bersistem dan bertema, 17 lokasi penanganan sistem mitigasi bencana geologi dan pengembangan 14 unit pos pengamatan gunung api.


Ia mengharapkan kebijakan dan program strategis bisa mendukung pertumbuhan ekonomi dan perkembanban industri. "Kalau dimaksimalkan terutama energi lokal yang di desa-desa, bisa menghasilkan energi sendiri, kemandirian energi akan segera terwujud," ungkapnya.


Teken Nota Kesepahaman

Pada kesempatan yang sama, Menteri ESDM Arifin Tasrif juga menyaksikan penandatangan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) terkait Kerja Sama Penelitian dan Pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) antara Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) ESDM, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), PT Pupuk Indonesia, PT Pertamina, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) serta Kerja Sama Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian Kepada Masyarakat di Sektor ESDM antara Balitbang ESDM dan ITB.


"Kalau tidak saya trigger, kadang (MoU) tidak ada realisasinya. Hanya sebatas yang tanda tangan. Mulai sekarang akan saya pantau agar bisa jalan. Saya tidak berharap lama-lama, apalagi saya sudah lama berkecimpung di dunia proyek," tegas Arifin.


c-IMG-20200304-WA0011.jpg


Nantinya, Balitbang ESDM bersama BPDPKS, Pupuk Indonesia, Pertamina dan ITB akan menyusun perencanaan dan kajian, monitoring, evaluasi teknis dan hukum untuk penelitian hingga strategi komersialisasi teknologi untuk optimalisasi pengembangan pemanfaatan BBN. Perencanaan ini dibarengi dengan pengutaan kompetensi sumber daya manusia dan alih teknologi dan ilmu pengetahuan antarinstansi.


Di samping itu, kerja sama ini juga akan mendorong pembangunan pabrik percontohan Bahan Bakar Nabati (BBN) Biohidrokarbon di area pabrik Pupuk Sriwijaya di Palembang, Sumatera Selatan. Pabrik ini akan memproduksi diesel biohidrokarbon, terutama Bioavtur J100 yang akan digunakan untuk uji properti, uji statik, dan uji terbang.


Kapasitas pabrik percontohan yang dirancang adalah 1.000 liter diesel biohidrokarbon atau Bioavtur perhari. Adapun anggaran yang diperlukan untuk pembangunan dan pengoperasian pabrik ini selama setahun sekitar Rp 75 miliar.


Pabrik percontohan BBN biohidrokarbon tersebut dirancang untuk mengolah bahan baku berupa minyak nabati industrial (industrial vegetable oil/IVO) menjadi diesel biohidrokarbon dan minyak laurat industrial (industrial lauric oil/ILO) menjadi bioavtur. "Terselesaikannya proyek pembangunan pabrik ini akan memberi dampak terwujudnya kilang BBN biohidrokarbon dengan teknologi dan katalis merah putih pertama di Indonesia dan memberikan nilai tambah bagi negara," ungkap Arifin.


Sementara itu, untuk kerja sama yang dilakukan oleh Balitbang ESDM dengan ITB antara lain meliputi penelitian dan pengembangan teknologi, potensi dan produk di sektor energi dan sumber daya mineral, peningkatan pendidikan dan kompetensi sumber daya manusia, perbantuan dan penyediaan tenaga ahli, tukar menukar informasi dan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang energi dan sumber daya mineral dan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat.


"Selama ini Balitbang ESDM dengan ITB juga telah bekerjasama mengembangkan katalis padat berbahan dasar mineral monmorilonit dari lempung, pengujian pemanfaatan biodiesel sejak 2006, pengembangan teknologi gasifikasi biomassa, dan Carbon Capture and Storage," pungkas Arifin. (NA/DKD)


Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama

Agung Pribadi (08112213555)


Bagikan Ini!