Hari Jadi Pertambangan dan Energi Ke-74, Menteri Jonan Tekankan Pengembangan Energi Ramah Lingkungan

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

REPUBLIK INDONESIA

SIARAN PERS

NOMOR: 590.Pers/04/SJI/2019

Tanggal: 28 September 2019

Hari Jadi Pertambangan dan Energi Ke-74, Menteri Jonan Tekankan Pengembangan Energi Ramah Lingkungan

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, keluarga besar sektor Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaksanakan Apel Peringatan Hari Jadi Pertambangan Dan Energi Ke-74. Bertindak sebagai Pembina upacara, Menteri ESDM Ignasius Jonan. Dalam amanahnya Menteri ESDM meminta kepada seluruh pegawai dan seluruh pemangku kepentingan untuk peduli dengan lingkungan dari ancaman pemanasan global atau global warming, karena menurut Jonan dampak pemanasan global akan sangat terasa bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

"Pembangunan energi bersih yang berkelanjutan atau yang kita kenal dengan energi baru terbarukan (EBT) penting untuk dipikirkan. Sebagai Pembina sektor wajib melaksanakan pengembangan energi bersih, kenapa, pertama, masalah lingkungan hidup, seluruh dunia juga sudah mulai mengurangi apa yang disebut efek pemanasan global," ujar Jonan kepada seluruh peserta Apel HUT Pertambangan Dan Energi ke-74, di Kementerian ESDM, Sabtu (28/9).

Dampak pemanasan global saat ini sudah dapat dirasakan. Jonan menceritakan, saat dirinya tinggal di Bandung 10 tahun yang lalu, suhunya masih sangat sejuk, berbeda dengan yang dirasakan saat ini.

"10 tahun yang lalu waktu saya mulai bertugas di Bandung, jam 5 pagi atau jam 6 pagi itu masih sejuk sekali. 10 tahun yang lalu itu pendek sekali, bukan 30 tahun yang lalu. Sekarang saya ke Bandung jam 5 pagi terasa biasa saja, hampir sama seperti Jakarta," ungkap Jonan.

Perubahan suhu akibat pemanasan global juga akan membuat permukaan air laut meningkat sehingga menjadi ancaman bagi negara-negara kepulauan atau daratan-daratan yang memiliki disparitas muka air laut dengan muka tanah tidak terlampau jauh.

"Efek dari pemanasan global kalau dibiarkan, akibat yang paling besar, yang paling radikal itu adalah permukaan laut akan naik dan kalau permukaan air laut naik, maka akan banyak daerah-daerah pesisir yang akan terdampak. Kalau kita melihat Jakarta dan banyak kota-kota pesisir di Utara Pulau Jawa sudah banyak wilayah yang tergenang dan kalau ini dibiarkan dengan kenaikan 1-3 derajat setiap 30 tahun, mungkin akan banyak wilayah Indonesia yang akan tenggelam," jelas Jonan.

Selain mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan, dalam jangka pendek, pemanfaatan EBT juga dapat memperbaiki neraca perdagangan akibat impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Sementara tujuan yang paling mulia adalah mempertahankan bumi kita agar tidak rusak, karena bumi ini adalah warisan bagi anak cucu kita.

"Tujuan yang paling mulia adalah untuk mempertahankan bumi kita agar tetap sustainable untuk anak cucu kita, itu yang paling penting. Saya juga sungguh-sungguh mendorong Badan Geologi untuk melaksanakan perannya dengan besar, Balitbang ESDM juga, cari sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, untuk bangsa untuk alam dan sebagainya. Dan terakhir, rekan-rekan yang berdinas di Direktorat Jenderal Mineral Dan Batubara itu wajib tanpa toleransi menerapkan aturan reklamasi paska tambang, menjaga alam atau menjaga bumi adalah mempersiapkan kehidupan yang baik untuk generasi mendatang untuk anak cucu kita," pungkas Jonan. (SF)

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama

Agung Pribadi (08112213555)