Melihat dari Dekat Pembangkit Mini Hidro Punya Tambrauw

TAMBRAUW - Jarak dari pusat Kota Sausapor di Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat menuju Desa Jokte sejauh 15 km ditempuh dalam durasi perjalanan 1 jam dengan kendaraan darat. Kondisi jalan yang belum diaspal dan berlumpur bekas guyuran hujan ditempuh tim www.esdm.go.id dengan menggunakan kendaraan roda empat double gardan (4x4 WD) yang melesat berhati-hati karena di sisi kanan jalan menyajikan jurang yang terbuka lebar.

"Memang disini sedang hujan lebat Bapak, licin bukan main, lihat itu di depan jembatan-jembatan kecil saja harus pelan-pelan biar tidak terperosok nanti. Tapi kalau memang kering, berdebu luar biasa sudah," ucap Sentul, salah seorang warga lokal yang menjadi pengemudi kendaraan kami, Senin (12/2). Sepanjang perjalanan pun berasa naik wahana roller coaster di salah satu tempat hiburan keluarga di Ibukota.

Namun, semuanya terbayar dengan pemandangan hijau yang tersaji tiada habis hingga tak terasa tiba di tempat tujuan, Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM) Warabiyai di Desa Jokte. Aroma dan udara segar khas pepohonan menggelitik paru-paru, sangat berbeda dari yang dirasa dari udara Jakarta. "Kita menuju daerah perbukitan Bapak, jalanan terus berkelok-kelok dan menanjak", lanjut Sentul. Memang, tidak mudah menaklukan kondisi Provinsi Papua Barat yang terkenal dengan destinasi wisata Raja Ampatnya.

Dari kejauhan, terlihat gardu listrik terlindung dengan baik menggunakan anyaman besi bercat silver, pertanda tidak untuk didekati. Di depannya tertancap plang baja berwarna putih bertuliskan PLTM Warabiyai 2x800 kW, Desa Jokte, Distrik Sausapor, Kabupaten Tambrauw. Kendaraan diparkir di sisi jalan dan rombongan memasuki kawasan pembangkit energi baru terbarukan tersebut.

PLTM Warabiyai disokong oleh aliran Sungai Warabiyai yang mengalir deras sepanjang tahun. Hening dan merdunya aliran air membuat kami rindu dengan suasana pedesaan. Hutan rimba, ciutan burung liar, dan hadirnya warga lokal, menambah kekaguman kami akan kayanya negeri ini.

PLTM Warabiyai yang dengan kapasitas mencapai 1,6 MW dan terhubung dengan jaringan PT PLN (Persero) ini membantu menerangi warga Desa Sausapor. Pembangunan PLTM ini sudah dilakukan sejak 2013 hingga 2015. Di tahun 2016, pemerintah setempat melakukan uji coba penggunaan pembangkit tersebut. "Ini pembangunannya murni memakai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Tambrauw", ungkap Bupati Kabupaten Tambrauw, Gabriel Asem yang juga ikut menyertai peninjauan. Tidak berlebihan rasanya, apabila apresiasi diberikan kepada Pemerintah Daerah Tambrauw yang memanfaatkan uang rakyat untuk dikembalikan pemanfaatannya kepada rakyat, seperti yang selalu di sampaikan Presiden Jokowi dalam berbagai kesempatan.

Tim kami dipersilahkan untuk memasuki ruang pengoperasian PLTM disambut oleh serang kepala teknisi. "Ada dua unit pembangkit disini. Masing-masing punya kapasitas 800 kW. PLTM Warabiyai ini sudah beroperasi melayani beban secara bergantian dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) milik PLN berkapasitas 250 kW. Pembangkit ini pun dapat menerangi 2.500 hingga 3.000 rumah tangga di Kabupaten Tambrauw ", ujar sang kepala teknisi, Suyanto antusias.

Terlihat jelas dua pembangkit berwarna hijau muda, kokoh, dan berbunyi khas turbin sedang beroperasi. Saat ini, beban puncak Distrik Sausapor mencapai 170 kW, dilayani oleh PLTD pada pukul 18.00-06.00 WIT serta PLTM Warabiyai pada pukul 08.00-12.00 WIT dan pukul 14.00-17.00 WIT.

Ia juga menjelaskan bahwa pengoperasian pembangkit tersebut juga bergantung pada debit air yang mengalir dari Bukit Desa Jokte. "Kalau kemarau, ini bisa hidup selama 4-5 jam saja. Tapi kalau sudah masuk musim penghujan, bisa beroperasi selama 8 jam", terang Suyanto menutup site visit kami. (IW)

Hak Cipta © 2018 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Jl. Medan Merdeka Selatan No. 18
Jakarta Pusat 10110
Telp. 021 3804242 Fax. 021 3507210
Berita Geologi